Berinvestasilah ke Diri Anda!

Kalau saya ditanya, investasi terbaik apa yang pernah Anda lakukan? Tanpa ragu sedikitpun, saya akan jawab: investasi ke diri saya sendiri! Banyak rekan saya yang kurang sependapat dengan hal ini dan cenderung berpikir bahwa investasi terbaik mereka adalah investasi ke saham blue chip atau membeli properti di lokasi yang premium. Kenapa? Karena dengan investasi yang terus saya pupuk sedari awal dalam diri saya, maka saya bisa menghasilkan investasi-investasi lain dalam hidup saya.  Bagi saya investasi terbaik dan akar dari semua investasi adalah investasi ke diri kita sendiri!

Dengan logika yang sangat sederhana kita bisa runut bahwa untuk menghasilkan investasi-investasi yang bersifat tangible seperti kapital, properti, saham, dsb maka kita memerlukan resources yang memadai dalam diri kita yang berupa skill, knowledge, physical, dsb.  Sayangnya orang seringkali lupa dengan prinsip dasar kehidupan, bahwa untuk menuai kita perlu menanam dan untuk memancing kita perlu umpan. Alam telah menggariskan bahwa tiada orang akan pernah menuai sesuatu yang tidak pernah ditaburnya. Untuk menuai hasil sesuai tujuan yang telah kita tetapkan, maka wajib hukumnya bagi kita untuk terus menabur, menyemai, dan merawat benih yang kita tanam.

Adapun komponen terpenting dalam siklus tersebut adalah manusia sebagai subjeknya.  Guna menghasilkan yang terbaik dalam hidupnya, manusia perlu memiliki perangkat lengkap yang memadai guna membantunya. Istilah rekan saya, “petani perlu mengasah pacul-nya” sebelum dapat membajak sawah dengan sempurna. Dalam pengalaman saya terdapat beberapa hal yang perlu dikuasai sebagai fundamental bagi siapapun yang ingin melangkah maju dalam semua aspek kehidupan.

Skill yang mutlak perlu dikuasai misalnya: penguasaan bahasa asing (minimal bahasa Inggris), teknik presentasi, teknik komunikasi, teknik self-motivation, teknik persuasi, dan dasar-dasar psikologi manusia. Juga tentu diperlukan knowledge yang memadai dalam bidang-bidang yang kita tekuni. Selain itu ada baiknya bila kita terus berinvestasi kepada hal-hal yang berhubungan dengan self empowerment, kesehatan, dan aspek-aspek spiritualitas baik yang berupa aspek religuius maupun spiritual kontemporer.

Fakta yang ada saat ini adalah orang-orang cenderung pelit untuk berinvestasi ke dalam diri mereka sendiri. Coba kita tanyakan dalam diri kita, apakah kita lebih ingin memiliki Blackberry Onyx atau ikut dalam seminar/training yang berhubungan dengan self empowerment? Saya yakin sebagian besar lebih mendambakan memiliki gadget terbaru dibanding berinvestasi kepada dirinya sendiri. Orang-orang cenderung memaksakan dirinya untuk memiliki sesuatu yang bersifat memenuhi rasa kepuasan jangka pendek dalam konteks hubungannya dengan manusia lain dibanding berinvestasi untuk menemukan kebahagiaan yang sifatnya jangka panjang.

Tentu saja investasi ke diri kita sendiri tidak terbatas hanya mengikuti seminar, training, workshop, sekolah lanjut, dsb. Namun juga bisa berupa self-learning dengan membaca literatur-literatur yang ada atau bahkan berinvestasi dengan hidup lebih sehat guna mencegah penyakit yang mungkin timbul.

Oleh karena itu, alangkah baiknya bila kita mulai berpikir untuk berinvestasi dalam diri kita sendiri. Bila digunakan dengan tepat dan maksimal, mestinya investasi-investasi yang telah kita tanamkan dalam diri kita sendiri tersebut akan memberikan hasil (return) yang jauh lebih besar dan permanen dibanding investasi lain yang sifatnya jangka pendek.  @Betley-290110

Tagged , , , , , , , , , , , , , , ,

How to Series – Strategi Memilih Partner Bisnis

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan Bisma, seorang pengusaha yang berbasis di Bandung. Bisnis yang digelutinya adalah bisnis alat-alat telekomunikasi dan juga proyek-proyek teknologi informasi yang masih berhubungan dengan bidang telekomunikasi. Sebenarnya kami berdua memulai bisnis pada rentang waktu yang sama, yakni sekitar tahun 2002. Waktu itu saya masih berstatus freelance dan bekerja di luar jam kerja sedangkan dia sudah memutuskan terjun full time dan keluar dari tempatnya bekerja di salah satu BUMN terkemuka. Namun sayangnya selang tujuh tahun kemudian bisa dibilang keadaan bisnis Bisma belum banyak berubah dan masih berkutat melayani klien berskala kecil dengan omset yang relatif masih kecil pula.  Padahal saya tahu persis bahwa solusi produk yang dimilikinya memiliki kualitas yang istimewa dan di atas rata-rata kualitas produk yang ada di pasar. Ketika hal tersebut saya utarakan kepada Bisma dan kemudian diikuti dengan diskusi panjang lebar, barulah saya ketahui beberapa hal yang membuat bisnisnya kurang cepat berkembang.

Dari hasil diskusi kami, diperoleh beberapa kesimpulan bahwa akselerasi bisnisnya kurang cepat dikarenakan beberapa faktor. Pertama, lokasi bisnisnya yang terletak di Bandung ternyata sedikit banyak telah membuatnya kesulitan untuk menembus pasar utama bisnisnya yang terletak di Jakarta. Meski jarak Bandung-Jakarta relatif dekat, namun faktanya dengan tingkat persaingan yang sangat sengit maka agak susah baginya untuk bersaing dengan vendor lokal di Jakarta. Kedua, Bisma ternyata masih mengerjakan proyek yang sifatnya masih dominan Custom-built Solutions alias berdasarkan pesanan dari klien. Meski memiliki beberapa solusi produk yang seharusnya bisa dijadikan Product Package namun ternyata dia belum berhasil membuatnya menjadi solusi produk siap jual. Bagaimanapun juga berdasarkan pengalaman penulis, menjual produk yang telah siap akan jauh lebih mudah dibanding menjual produk yang sifatnya berdasarkan pesanan. Hal tersebut dikarenakan karakter produk yang ditawarkan cenderung mengarah ke produk komoditi dan bukannya produk couture yang memang diproduksi sesuai pesanan pengguna. Ketiga, latar belakang Bisma adalah teknis dan membuatnya lebih banyak berpikir dalam kerangka yang sangat teknikal. Hal tersebut telah membuatnya terbelenggu dalam sudut pandang teknis sehingga beberapa kali melewatkan kesempatan bisnis yang luar biasa.

Setelah menemukan kesimpulan tersebut maka arah diskusi kami sekarang bergeser untuk mencari solusi yang terbaik bagi dia guna meningkatkan akselerasi bisnisnya supaya dapat bersaing dengan pemain lainnya di bidang ini. Soal lokasi bisnis yang di Bandung, dia sepakat untuk membuka perwakilan penjualan dan layanan servis di Jakarta (Sales & Service Point) yang dia harapkan akan membuatnya menjadi lebih responsif dalam memenuhi permintaan pasar dan memberikan layanan purna jual kepada kliennya. Sedangkan soal solusi Product Package dia juga sudah memikirkannya dan berdasarkan analisisnya setidaknya terdapat beberapa produk yang siap untuk dikemas menjadi paket lengkap dengan branding dan strategi pemasarannya.

Sedangkan untuk mengatasi tantangan yang ketiga, soal business skill, Bisma secara terbuka mengakui bahwa dia memiliki kelemahan dalam aspek tersebut. Dengan latar belakang teknis yang sangat kental, Bisma kurang memiliki intuisi bisnis yang kuat guna mengendus peluang yang ada serta mengubahnya menjadi keberuntungan bagi bisnisnya. Melihat situasi semacam itu, saya merekomendasikan Bisma untuk berkolaborasi dengan partner lain yang memiliki latar belakang bisnis yang kuat. Sebagaimana Bill Gates yang meraih sukses luar biasa setelah berkolaborasi dengan Steve Ballmer maka saya merekomendasikan Bisma untuk bekerjasama dengan partner lainnya guna membawa bisnisnya ke level selanjutnya. Saya ilustrasikan bahwa lebih baik memiliki 60% saham dengan omset 1 miliar dibandingkan dengan memiliki 100% saham dengan omset 100 juta.

Pertanyaan yang lantas muncul dari Bisma adalah “Bagaimana memilih partner bisnis yang tepat untuk saya?” Pertanyaan yang tampaknya sederhana namun sangat tidak sederhana jawabannya. Menurut saya faktor manusia adalah merupakan faktor yang paling menantang untuk ditangani dalam sebuah bisnis karena manusia memiliki sifat yang sangat unpredictable hampir dalam semua aspek. Namun demikian saya percaya tidak ada sesuatu hal yang sulit selama kita memiliki keyakinan dan kemauan kuat untuk mengatasinya.

Untuk berkembang dengan lebih cepat, saya memutuskan bekerjasama dengan beberapa partner. Kerjasama tersebut tidaklah selamanya mulus karena sudah beberapa kali saya gagal dalam bekerjasama dikarenakan beberapa faktor, yang paling umum adalah faktor hilangnya kepercayaan yang berhubungan dengan hal keuangan, komitmen, dan kinerja. Meski demikian saya tidak kapok bekerjasama dengan partner karena saya yakin pasti ada partner bisnis yang tepat bagi saya. Berdasarkan beberapa pengalaman tersebut, berikut adalah beberapa hal yang saya rekomendasikan bagi Bisma dalam upayanya mencari partner bisnis yang tepat:

1. Dengarkanlah Intuisi Anda!

Sebagian orang merasa dengan bekal pendidikan yang tinggi, apalagi titel MBA, maka mereka berpendapat semua hal bisa dianalisis dengan serangkaian tools analisis yang ada. Padahal berdasarkan pengalaman saya hal tersebut tidaklah tepat 100%. Alat-alat analisis tersebut memang berguna, namun ujungnya semua kembali pada itikad atau motif dari pihak-pihak yang bekerjasama. Dan satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk menganalisis hal tersebut adalah intuisi kita yang berasal dari lubuk hati terdalam. Memang tidak mudah menggali hal tersebut, namun dengan latihan yang tepat dan konsisten maka hal tersebut bisa dilakukan. Ada baiknya Anda berlatih teknik-teknik NLP guna menganalisis kejujuran orang dari pandangan mata mereka, karena mata adalah benar-benar jendela hati. Selain itu jangan lupa menelisik jatidiri dan rekam jejak calon partner Anda beserta masukan dari orang-orang yang Anda percayai. Tetapi ingatlah selalu bahwa suara hati Anda dari lubuk yang terdalam merupakan suara yang paling jujur dan bisa dipercaya.

2. Pilih Partner yang Relevan

Relevan disini bermakna sebaiknya Anda memilih partner yang bisa memberikan advantage jangka panjang bagi kelangsungan bisnis Anda. Advantage tidak semata berupa suntikan modal dalam bentuk materi namun lebih berarti pada kontribusi pengalaman bisnis, networking bisnis, infrastruktur penunjang, dan back-up untuk kondisi bisnis dikala situasi sulit. Pilihlah partner yang bisa mendorong bisnis Anda ke tahap selanjutnya dengan cepat dan berorientasi ke masa depan.

3. Carilah Partner yang Kompatibel dengan Anda

Sebelum memulai kerjasama, Anda harus memastikan bahwa kepribadian calon partner harus kompatibel dengan kepribadian Anda. Kompatibel disini bukan berarti harus berkepribadian sama atau sejenis namun alangkah baiknya bila partner Anda bisa melengkapi potensi yang Anda miliki. Sinergi yang terjalin dari hal tersebut akan menghasilkan sesuatu kekuatan yang akan mendorong bisnis Anda maju dengan lebih cepat dan konsisten.

4. Sebisa Mungkin Pilih Silent Partner

Sebagai pengelola bisnis (active partner), apabila memungkinkan saya merasa lebih nyaman bekerjasama dengan partner yang bersifat silent partner (pasif) karena hal tersebut akan memberikan keleluasaan bagi saya untuk merancang dan mengeksekusi strategi bisnis yang ada. Silent partner tentu bukan bermakna partner yang hanya menanam modal materi lantas tidak berkontribusi lainnya. Partner tetap diharapkan untuk memberikan masukan dan pandangannya dalam pengambilan keputusan bisnis yang penting namun tidak sampai terjun ke hal-hal yang bersifat detil operasional. Dalam pengalaman saya agak susah bekerjasama dengan partner yang terlibat dalam hal detil operasional karena akan menghambat proses pengambilan keputusan dan memperbesar potensi konflik.

5. Landasan Hukum yang Memadai

Meski semua berpulang pada motif dan niat baik seseorang, namun dalam sebuah kerangka bisnis tetaplah diperlukan suatu landasan legal formalistik yang memadai. Landasan hukum tersebut akan menjamin tersedianya perlindungan hak dan penjabaran kewajiban yang jelas dan terdokumentasi beserta konsekuensinya. Hal ini akan mengurangi resiko sengketa yang muncul di kemudian hari.

Kerjasama bisnis yang baik dan berhasil ibaratnya bibit tanaman yang harus senantiasa disemai dan dirawat dengan baik untuk memperoleh hasil panen seperti yang diharapkan. Juga kemampuan untuk mengatasi hama dan gulma yang ada.

Kelima faktor yang saya sampaikan kepada Bisma tersebut berdasarkan atas pengalaman saya bekerjasama dengan beberapa partner. Dengan adanya itikad yang baik dari semua pihak serta kemauan yang keras untuk berhasil maka niscaya keutuhan dan keberhasilan bisnis ada di depan mata. @Betley-191209

Tagged , , , , , , , , , ,

Wirausaha? Ini Soal Mindset! (Final)

superhero-mindset10. Kembangkan Jaringan yang Luas (Networking)

Jaringan relasi bisnis yang luas merupakan suatu faktor yang penting guna mendorong keberhasilan Anda sebagai pengusaha. Menurut Hofstede (2001), seorang ahli budaya bisnis, secara umum orang Indonesia dapat dikategorikan sebagai orang yang bersifat High Context dan komunal yang berarti membutuhkan interaksi yang lebih dalam guna menjalin hubungan bisnis yang erat.

Dalam pengalaman saya kedekatan kita secara personal dengan calon konsumen akan sangat membantu kita untuk dapat memahami kemauannya sehingga memudahkan kita dalam melayani mereka. Oleh karena itu referensi ataupun rekomendasi dari seseorang yang memiliki keterkaitan dengan calon konsumen kita menjadi suatu hal yang penting daam konteks bisnis di Indonesia. Efek lain dari hal ini adalah tumbuh suburnya peran dari perantara (broker) dalam bisnis di Indonesia yang berpotensi merugikan kita karena akan mengurangi margin kita.

Untuk menyiasati hal ini maka sebaiknya kita berusaha menjalin kontak yang lebih luas dengan berbagai cara, misalnya: aktif dalam asosiasi bisnis, aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan, aktif menjadi pembicara, menjadi anggota komunitas bisnis, dsb. Gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menjalin kontak-kontak bisnis baru karena Anda akan merasakan manfaatnya suatu saat nanti. Namun perlu diingat bahwa kita wajib menerapkan aspek resiprokal dalam menciptakan suatu relasi yang sehat. Maksudnya ialah bahwa Anda juga wajib memberi bantuan kepada relasi Anda bilamana mereka memerlukannya dan bukannya semata-mata meminta bantuan dari mereka.

11. Bersikaplah Tulus

Hal ini tampaknya mudah dikatakan namun sangat sangat susah untuk dilakukan. Bersikap tulus dalam setiap kesepakatan bisnis akan membuat Anda menjadi orang yang dapat dipercaya dan pada akhirnya akan mendorong keberhasilan usaha Anda. Semua orang tidak akan suka berbisnis dengan orang yang licik dan memiliki terlalu banyak agenda terselubung dalam benaknya yang ujungnya akan merugikan pihak lain. Ini soal moral dan etika oleh karena itu hal ini sangat tergantung dari diri Anda sendiri.

12. Jagalah Integritas Anda

Integritas dan reputasi merupakan suatu komponen yang wajib Anda pelihara sekuat tenaga sampai akhir hayat Anda. Lebih baik mengalami kerugian finansial dibanding kerugian dikarenakan hancurnya reputasi yang telah susah payah kita bangun. Sebagai pengusaha saya berulangkali mengalami kerugian finansial yang tidak sedikit guna menyelamatkan reputasi dan integritas perusahaan kami. Namun tentu saja kerugian finansial itu tidak sebanding dengan reputasi dan integritas perusahaan yang sedang coba kami bangun.

Meski tampaknya besar tetapi sebenarnya lingkup suatu industri di Indonesia adalah sangat sempit. Kalau Anda sadari, dalam suatu sektor industri maka pihak-pihak yang terlibat (stakeholders) seperti konsumen, pesaing, dan pemasok sebenarnya adalah orang yang itu-itu saja. Maka sekali rusak reputasi Anda maka sudah pasti Anda akan mengalami kesulitan untuk terus bertahan dalam sektor industri tersebut.  Sehingga menjaga kepercayaan dari pihak lain dalam bisnis adalah mutlak adanya. Hal ini terutama berkaitan dengan pemenuhan janji kualitas, janji waktu,  dan dalam urusan hutang piutang.

13. Mulailah Berinvestasi pada Diri Anda

Peter F. Drucker (Guru Manajemen Dunia) dikenal memiliki kebiasaan unik untuk senantiasa mempelajari dua hal baru setiap bulan. Oleh karena itu Drucker memiliki sangat banyak keterampilan mulai dari ilmu pengembangan diri, menulis novel fiksi,  hingga masalah tanaman. Dia sangat menyadari bahwa setiap pengetahuan baru akan sangat mendukung kemampuannya guna menciptakan strategi-strategi bisnis baru yang fenomenal.

Oleh karena itu ada baiknya bahwa Anda sebagai seorang pengusaha juga menginvestasikan sesuatu untuk diri Anda sendiri. Investasi tersebut dapat berupa pelatihan atau kursus-kursus yang dapat membantu meraih tujuan Anda dengan lebih efektif dan efisien. Orang sering salah mengira bahwa pendidikan berhenti setelah mereka menamatkan pendidikan sarjana atau paska sarjana mereka. Padahal pendidikan terbaik itu sejatinya adalah pendidikan dalam kehidupan yang tidak akan pernah berakhir (life-long learning). Dengan mengikuti pendidikan singkat di sela-sela kesibukan Anda maka Anda akan memperoleh banyak perspektif baru yang akan sangat membantu Anda guna bekerja dengan lebih efektif dan efisien.

14. Wujudkanlah Mimpi Anda

Hal ini merupakan hal yang terpenting dalam bagian ini. Adalah sangat tipis diantara “dream” dan “dreamer” atau antara “mimpi” dan “pemimpi”. Seornag pemimpi tidak akan sampai kemanapun karena tidak berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya. Sebagai manusia Anda berhak memiliki mimpi setinggi langit, namun tanpa kemauan dan kerja keras guna mewujudkan mimpi itu maka Anda hanyalah seorang pemimpi.

Bila Anda memiliki harapan, maka betapapun sulit tampaknya cobalah untuk menghidupkan mimpi tersebut. Mulailah dengan hal yang praktis dan sederhana namun dijalani dengan konsisten. Bukankah pepatah bijak kuno berbunyi “a thousand miles of journey begins wih a single step”? Buatlah objective (tujuan) yang spesifik lalu ciptakan strategi dan taktik yang tepat guna mencapainya. Ingatlah selalu bahwa semua hal tidak ada gunanya tanpa adanya suatu tindakan atau Action! @Betley-261009

Tagged , , , , , , , , , , , , , , ,

Wirausaha? Ini Soal Mindset! (2)

16780

6. Jangan Mudah Menyerah

Ini merupakan suatu prinsip dasar yang tidak boleh Anda lupakan sepanjang kehidupan Anda sebagai seorang pengusaha. Tantangan dan hambatan tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun juga karena sejatinya seseorang akan menjadi lebih kuat dan maju berkat adanya tantangan dan hambatan tersebut. Dalam semua sejarah peradaban manusia, hanya mereka yang mampu mengatasi tantangan dan hambatanlah yang akan menjadi juara. Oleh karena itu perlu selalu Anda tekankan bahwa mudah menyerah bukanlah sikap yang bijaksana bagi seorang pengusaha.

Orang bijak berkata bahwa dalam banyak hal kegagalan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, namun yang membedakan antara orang dengan mental pemenang atau bukan adalah kemampuannya bangkit dari kegagalan. Jangan sampai kegagalan kecil dalam usaha membuat Anda jatuh terpuruk dan tidak mampu bangkit lagi. Cobalah melakukan analisis dengan lebih jernih dan objektif apa sebenarnya yang menjadikan Anda gagal. Saya yakin dengan sedikit kesabaran dan banyak kemauan untuk bangkit lagi maka Anda akan mampu mengatasi sindrom kegagalan yang berlarut-larut. Selain itu Anda harus sadar bahwa di dunia ini pada dasarnya tidak pernah ada orang yang sama sekali belum pernah merasakan kegagalan.

7. Galilah Setiap Peluang yang Ada

Pada dasarnya pengusaha adalah sekumpulan orang yang jeli memanfaatkan peluang yang ada. Kerepotan yang dialami orang lain merupakan peluang emas bagi kita untuk membuka usaha baru. Seperti misalnya kerepotan orang guna memandikan hewan peliharaannya yang mencetuskan ide Salon Hewan Keliling, atau kerepotan orang menempelkan pesan tertulis yang mencetuskan ide Post It Notes yang sangat legendaris itu.

Perlu diingat bahwa sebenarnya peluang tersebut ada dimana-mana dan kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya adalah bahwa para pengusaha memanfaatkan peluang tersebut dengan memberikan nilai tambah tertentu untuk selanjutnya dipasarkan kepada mereka yang membutuhkan. Untuk pembahasan lebih detil soal hal ini akan dibahas dalam bab-bab berikutnya yang mengulas soal menemukan ide-ide bisnis.

8. Jangan Gengsi

Ini merupakan problem serius bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam pengalaman memberikan konsultasi kepada calon pengusaha baru saya menemukan fakta yang cukup mengagetkan bahwa ternyata banyak sekali orang Indonesia yang memiliki rasa gengsi yang sangat tinggi sehingga enggan mengerjakan hal-hal yang menurut pendapat mereka adalah kegiatan yang “tidak bergengsi”. Waktu saya rekomendasikan untuk membuka usaha di dekat pasar dikarenakan modalnya yang terbatas, klien saya menjawab “Pak, saya khan lulusan S1 mana mungkin saya buka warung bebek goreng di tepi jalan?”. Dia ngotot membuka usaha di salah satu mall yang tentu saja memiliki sewa tempat yang sangat mahal dan diluar kemampuannya.

Menurut saya apabila kita terlalu berpatokan pada gengsi semata dan kurang mendasarkan diri pada penilaian yang lebih objektif dan komprehensif maka hal tersebut akan berpotensi menghasilkan hal-hal ynag kontraproduktif dalam pencapaian tujuan kita. Pada umumnya orang berpikir dengan latar belakang keluarga besarnya yang berhasil, pendidikannya, atau status tertentu yang disandangnya maka memulai sesuatu dari bawah dianggap menjadi sesuatu yang dapat merendahkan statusnya. Padahal dalam ilmu sosiologi pencapaian status yang bersifat achieved status atau status yang diperoleh dengan perjuangan sendiri adalah setara atau bisa jadi lebih mulia dibanding ascribed status yang diperoleh secara otomatis seperti misalnya status kebangsawanan.

Apabila tidak ditangani dengan serius, persoalan gengsi ini bisa menjadi barrier atau hambatan berat bagi mereka yang berkeinginan untuk menjadi pengusaha. Karena pengusaha sesungguhnya adalah mereka yang dengan konsistensi ketekunannya berhasil meningkatkan status mereka dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang memiliki peran penting dalam lingkungannya.

9. Jangan Malas

Tidak ada satupun resep di dunia untuk menjadi pengusaha sukses secara instan. Karena pada dasarnya kehidupan menjadi pengusaha adalah merupakan suatu perjalanan menempuh serangkaian proses yang saling terintegrasi satu sama lain. Jangan pernah percaya terhadap sesuatu yang sifatnya instan karena bisa dipastikan tidak akan bertahan lama dan tidak mungkin langgeng sifatnya. Easy come easy go!.

Satu-satunya resep untuk bisa berhasil dalah dengan bekerja keras terus menerus secara konsisten. James Caan, seorang konglomerat Inggris, berkata “there is no substitute for hard work, I’m sorry to say”. Tidak ada satupun yang bisa menggantikan kerja keras guna meraih suatu kesuksesan. Oleh karena itu sifat malas tidak akan membawa Anda kemanapun selain kegagalan dalam bidang apapun. Karena pada dasarnya tidak ada orang yang bodoh dalam dunia ini, yang ada adalah orang yang malas dan tidak mau berusaha. @Betley-121009

BERSAMBUNG

Tagged , , , , , , ,

Wirausaha? Ini Soal Mindset! (1)

mindsetMindset adalah salah satu komponen yang paling menentukan dari keberhasilan seorang pengusaha. Dengan mindset yang tepat maka Anda sudah selangkah di depan menuju kesuksesan dan atau sebaliknya. Hal ini terjadi karena mindset yang wajib dimiliki oleh seorang pengusaha dalam banyak hal bisa bertolak-belakang dengan mindset yang dimiliki oleh karyawan atau mereka yang bekerja sendiri (self-employed). Untuk itu agar berhasil dalam bisnis maka Anda wajib menyesuaikan dengan mindset para pengusaha. Mindset dalam konteks entrepreneurship juga dikenal sebagai entrepreneurial spirit yang kurang lebih berarti pola pikir yang perlu dimiliki oleh seseorang guna menjalani kehidupannya sebagai seorang pengusaha.

Mindset menjadi penting karena perjalanan yang harus dilalui oleh seorang pengusaha tidaklah mudah. Dipastikan akan terdapat banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi guna mencapai keberhasilan. Tantangan yang umum terjadi diantaranya ialah: hambatan yang berasal dari persaingan bisnis, hambatan yang berasal dari tenaga kerja, hambatan pemasaran, hambatan produksi, dan juga yang paling sering terjadi adalah hambatan yang berhubungan dengan aspek finansial berupa ketersediaan modal ataupun kendala cash-flow.

Guna menghadapi tantangan-tantangan tersebut maka pengusaha hendaknya memiliki mindset yang kuat dan konsisten untuk membentuknya menjadi pribadi yang tegar, tahan banting, serta berani menghadapi setiap kondisi yang ada. Mereka yang berminat untuk terjun ke dunia bisnis sebaiknya menyesuaikan dirinya secepat mungkin dengan mindset entrepreneur, sebagian kecil diantaranya ialah:

1. Senantiasa Berpikir Positif

Ini bukan klise! Berpikir positif adalah hal terpenting guna membentuk mental pengusaha. Sejarah membuktikan hal-hal besar lahir dari mereka yang senantiasa berpikir positif dan terus bekerja meskipun mendapat tentangan dan cemoohan dari orang-orang. Kalau Anda berpikir dengan sudut pandang negatif maka hasil itu pulalah yang akan Anda peroleh. Lain hal-nya kalau Anda senantiasa berpikir positif, maka bisa diprediksi bahwa Anda sudah setengah jalan menuju keberhasilan Anda. Oleh karena itu jangan biarkan hal-hal kecil merusak konsentrasi Anda terhadap kepentingan yang lebih besar.

Ingatlah selalu bahwa energi positif itu menular sebagaimana juga energi negatif, maka hendaknya Anda berhati-hati dalam pergaulan Anda. Tanpa bermaksud menjadi eksklusif dan sombong, sebaiknya Anda membatasi berdiskusi dengan mereka yang senantiasa apatis, suka mengeluh dan skeptis terhadap hal-hal yang baru. Pada dasarnya hidup Anda bergantung pada perspektif Anda sendiri jadi apabila Anda terlampau banyak bergaul dengan mereka yang senantiasa berpikir negatif maka bukan tidak mungkin Anda sedang dalam proses untuk menjerumuskan Anda menjadi seperti mereka yang selalu skeptis terhadap keberhasilan.

2. Keluarlah dari Zona Nyaman (Comfort Zone)

Sebagian besar orang terjebak dalam zona nyaman dalam hidupnya sehingga tidak sadar bahwa sebenarnya perlahan-lahan tapi pasti mereka sedang dalam proses menuju stagnasi (kemandekan). Zona nyaman yang umum dikenal saat ini dapat berupa jabatan yang tinggi, gaji yang pasti setiap akhir bulan, fasilitas kredit pemilikan kendaraan dan rumah, fasilitas dana pensiun, dan janji kenaikan gaji berkala setiap periode.

Kalau Anda berhasrat menjadi pengusaha maka mau tidak mau Anda harus menanggalkan zona nyaman tersebut dan bersiap-siap menuju medan pertempuran baru yang bernama dunia bisnis. Menjadi pengusaha berarti membawa Anda meninggalkan suatu rutinitas sehari-hari dan memasuki dunia baru yang menuntut kreatifitas Anda guna menghadapi setiap tantangan yang ada. Zona nyaman yang semu umumnya berhasil membius mereka yang kurang memiliki jiwa petualangan (adventure) dan mereka yang seumur hidupnya berusaha mencari kemapanan dari aktivitas-aktivitas yang bersifat rutin. Kalau Anda memiliki karakter demikian, maka menjadi pengusaha tampaknya bukanlah untuk Anda. Karena menjadi karyawan ataupun self-employed juga merupakan pilihan yang mulia.

Tetapi lain halnya bagi Anda yang berharap menemukan suatu kebahagian dari proses menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang tidak bernilai menjadi sesuatu yang bernilai tinggi maka mungkin dunia ini diciptakan untuk Anda. Oleh karena itu bila Anda merasa zona nyaman tidak lagi menjadi sumber kebahagiaan Anda maka buku ini memang tepat bagi Anda.

3. Berpikirlah Kreatif (Out of the Box)

Pengusaha yang sukses umumnya adalah mereka yang tidak berpikir secara linier. Mereka yang berani berpikir diluar pakem yang ada serta menciptakan inovasi-inovasi baru guna memenuhi kebutuhan masyarakat memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk berhasil dibanding mereka yang hanya berusaha untuk mencontoh sesuatu yang telah ada. Meski tidak mudah untuk berpikir kreatif namun tentu saja hal ini bukan merupakan sesuatu yang mustahil.

Para ahli menyatakan bahwa pada umumnya manusia lebih banyak menggunakan otak kiri dibanding otak kanannya. Otak kiri berfungsi untuk menganalisis sesuatu secara sistematis dan linier sedangkan otak kanan berfungsi untuk hal-hal yang bersifat kreatif, imajinatif dan tidak linier. Masalahnya pendidikan formal kita diduga lebih banyak menekankan pada penggunaan otak kiri dibanding otak kanan sehingga kita terbiasa menyikapi sesuatu dengan berpikir analitis dan sistematis secara linier dan kurang berani menganalisis sesuatu dengan pemikiran yang lebih kreatif dan out of the box. Tentu saja penggunaan otak kanan bisa dipelajari dan dilatih dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah seorang rekan saya melatihnya dengan meminjam permainan game Nintendo WII milik anaknya untuk membiasakannya menyelesaikan problem-problem yang ada dalam permainan itu.

Dalam pengalaman saya penggunaan solusi-solusi yang kreatif dan tidak linier terbukti mampu membantu mengatasi problem-problem yang cukup berat. Seringkali persoalan teknis yang dianggap cukup kompleks ternyata cukup diselesaikan dengan berbagai pendekatan yang sederhana namun kreatif. Seperti misalnya kendala lambatnya pengiriman data dari para surveyor kredit salah satu klien kami dikarenakan lambatnya koneksi jaringan internet ternyata cukup diselesaikan dengan cara melakukan pengiriman melalui fasilitas SMS dengan memodifikasi formatnya secara khusus agar sesuai dengan format database kami.

Demikian juga dengan kendala-kendala operasional yang dihadapi oleh pengusaha. Tanpa bermaksud melakukan simplifikasi, dengan sedikit kreatifitas dan imajinasi maka banyak hal yang tampaknya kompleks dapat diselesaikan dengan cara yang relative mudah dan sederhana.

4. Pupuklah Kepercayaan Diri Anda

Salah satu hal terpenting guna meyakinkan calon konsumen ialah dengan menampilkan kepercayaan diri yang besar terhadap produk-produk yang Anda hasilkan. Bagaimana mungkin orang akan tertarik untuk menggunakan produk Anda kalau Anda sendiri tidak memiliki keyakinan yang kuat dan mendasar terhadapnya. Oleh karena itu kepercayaan diri yang besar namun masih dalam kerangka proporsional adalah sangat penting.

Menumbuhkan kepercayaan diri yang konsisten bagi sebagian orang bukanlah perkara yang mudah. Namun sekali lagi hal ini bisa dilatih dan dipelajari hingga pada akhirnya hal tersebut akan secara otomatis telah tertanam dalam diri Anda (embedded). Kepercayaan diri dapat dipupuk dari hal-hal yang paling sederhana hingga hal-hal yang lebih kompleks. Jangan terlalu memperdulikan kritik orang yang tidak bersifat konstruktif karena bisa jadi kritik tersebut memang ditujukan guna menghancurkan kepercayaan diri Anda yang terutama disebabkan oleh rasa iri atau ketidaksukaan terhadap kemajuan yang Anda alami.

Namun bila Anda merasa memiliki problem kepercayaan diri yang serius maka ada baiknya Anda berpikir untuk minta bantuan dari para profesional seperti dari psikolog atau motivator. Adalah sah dan wajar untuk meminta bantuan dari para profesional dalam bidang ini karena hal ini merupakan salah satu komponen esensial yang menentukan berhasil atau tidaknya kehidupan Anda di masa yang akan datang.

5. Jadilah Pribadi yang Proaktif

Untuk menjadi pengusaha yang berhasil maka Anda perlu menjadi pribadi yang proaktif. Proaktif dalam arti Anda harus senantiasa memiliki kesadaran penuh terhadap jalannya roda bisnis. Kewirausahaan menuntut adanya sikap kemandirian dari pengusaha untuk menjalankan roda bisnisnya sehingga diperlukan suatu tindakan proaktif secara terus-menerus. Adalah mustahil untuk mengembangkan usaha hanya dengan bersikap pasif dan tidak melakukan inovasi secara kontinyu dengan kondisi persaingan di pasar yang sangat ketat seperti dewasa ini.

Ini berarti Anda harus mampu mengenali kekuatan (strength) dari bisnis untuk kemudian dipertahankan atau bahkan ditingkatkan dan juga mengenali kelemahan (weakness) dari bisnis tersebut untuk dapat dicari penyelesaiannya. Itulah sebabnya Anda wajib menguasai strategi bisnis seperti SWOT Analysis yang akan kita bahas lebih lanjut dalam bab-bab berikutnya. @Betley101009

– BERSAMBUNG–

Tagged , , , , ,

Wirausaha TI, Sulitkah?

kermitBerdasarkan pengamatan penulis, saat ini rasa-rasanya industri teknologi informasi Indonesia sedang terjangkiti virus kewirausahaan. Hal tersebut sah-sah saja dan malah bagus menurut sudut pandang penulis mengingat fakta menunjukkan saat ini masih terdapat jutaan orang dalam usia produktif yang masih harus berjibaku memperebutkan lapangan kerja yang sangat terbatas.

Logikanya bila ada sekitar 1000 orang saja membuka usaha, dengan asumsi rata-rata tiap perusahaan memperkerjakan 5 tenaga kerja, maka setidaknya akan ada sekitar 5000 orang yang terserap dalam lapangan pekerjaan tersebut. Bila tiap orang setidaknya menghidupi satu istri dan satu anak, maka setidaknya 15.000 orang akan tercukupi kebutuhan hidupnya. Bayangkan bila ada 1 juta manusia Indonesia yang berani membuka usaha sendiri.

Namun demikian, bila kita berbicara dengan tataran yang lebih realistis. Membuka usaha sendiri tidaklah semudah yang dibayangkan. Meskipun juga jangan dijadikan sebagai alasan untuk membuat kita mundur dalam meraih cita-cita membuka usaha sendiri. Sektor Teknologi Informasi (TI) dalam prediksi dan keyakinan penulis merupakan salah satu industri masa depan yang sangat prospektif. Dalam kajian secara informal maupun berdasarkan kajian ilmiah sewaktu penulis menyusun tesis, diperoleh kesimpulan bahwa industri alih daya (outsourcing) TI di Indonesia telah dan akan terus berkembang pesat.

Hal tersebut diatas terutama didukung dengan berbagai alasan utama, seperti: penghematan biaya, akses terhadap teknologi dan ketrampilan khusus, akses terhadap kualitas layanan yang lebih baik, dan terutama keputusan untuk fokus kepada bisnis inti (core business). Larry Ellison (CEO Oracle Corp) pernah berujar: “why should every doctor’s office have to be a tech company too, employing high-paid staffs who spend all of their time fiddling around with computers?”. Kalimat tersebut jelas menunjukkan optimisme objektif bahwa bisnis TI akan terus berkembang seiring dengan kesadaran dari perusahaan-perusahaan untuk melakukan alih daya TI kepada pihak luar.

Dalam konteks Indonesia, berdasarkan pengalaman penulis sebagai penyedia solusi alih daya TI, potensi pasar yang tersedia bisa dibilang sangat besar dan akan terus berkembang. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa terdapat banyak perusahaan blue-chip nasional yang masih menjalankan aktivitas operasionalnya secara manual dan belum terotomasi. Logikanya bila perusahaan papan atas masih banyak melakukan aktivitas manual, bisa dibayangkan untuk perusahaan kelas kecil dan menengah. Mengingat potensi UKM di Indonesia yang sangat besar, penulis yakin bahwa bisnis TI akan terus berkembang dengan pesat di masa datang.

Setelah yakin dengan potensi pasar, pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana memulai bisnis tersebut? Sebagaimana galibnya memulai usaha baru, diperlukan beberapa hal dasar yang mutlak diperlukan untuk memulai usaha dengan baik. Secara singkat, setidaknya diperlukan tiga hal utama, yakni mental, modal, dan ketrampilan. Sebagian orang percaya diperlukan juga keberuntungan (LUCK) dalam memulai bisnis baru, namun penulis lebih percaya dengan akronim LUCK = Labor Under Correct Knowledge atau dengan kata lain sebenarnya kitalah yang harus menciptakan keberuntungan kita sendiri.

Sikap mental yang jujur, tangguh, berani, ulet, dan tidak mudah menyerah merupakan karakteristik mutlak dari wirausaha yang menginginkan kesuksesan dalam bisnisnya. Namun demikian sikap mental tersebut bukanlah sesuatu yang “taken for granted” alias otomatis dimiliki oleh setiap orang. Sebagai manusia, kita harus belajar dan terus mencoba untuk melatih sikap-sikap mental tersebut. Tanpa usaha dan latihan yang berkesinambungan, rasanya susah untuk memiliki sikap mental seperti itu.

Hal selanjutnya yang sering dianggap hambatan dalam memulai usaha baru adalah ketiadaan modal. Hal ini wajar mengingat di Indonesia tidaklah mudah memperoleh modal usaha yang diperlukan untuk memulai suatu bisnis. Dalam konteks bisnis TI, hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan berbagai cara. Bisnis jasa konsultasi TI (software, networking) biasanya tidak memerlukan modal yang besar. Cukup berbekal ketrampilan dan kemampuan untuk “menjual” ketrampilan tersebut maka biasanya sebuah usaha TI dapat dimulai dengan modal yang seminim mungkin. Apabila Anda masih mahasiswa, banyaklah bergabung dengan komunitas mailing list atau e-forum yang mungkin dapat menjadi jembatan awal dalam menawarkan ketrampilan Anda.

Selain itu juga ada kesempatan untuk menawarkan diri Anda menjadi tenaga lepas (freelancer) dalam mengerjakan proyek-proyek TI. Bagi Anda yang baru lulus dan belum memiliki ketrampilan tinggi, hal ini merupakan peluang yang bagus untuk meningkatkan ketrampilan Anda dan sekaligus mengumpulkan portofolio. Bila memungkinkan, carilah proyek dari perusahaan yang ternama atau multi nasional. Karena dengan demikian akan memberikan nilai tambah bagi Anda apabila Anda hendak menawarkan jasa kepada perusahaan lain.

Setelah yakin dengan ketrampilan dan jam terbang Anda, tak ada salahnya bila mulai memikirkan untuk membuka usaha secara formal. Ada baiknya memulai usaha bersama rekan yang memiliki visi yang sama mengingat keterbatasan modal yang ada. Para ahli kewirausahaan berpendapat bahwa 18 bulan pertama dalam bisnis merupakan masa kritis yang akan menentukan kelangsungan sebuah bisnis, Oleh karena itu pada periode tersebut faktor produksi, pemasaran, keuangan, dan pengelolaan SDM harus diperhatikan dengan sangat seksama.

Umumnya problem yang dihadapi oleh bisnis baru berkisar pada faktor pemasaran dan cash-flow. Untuk pemasaran, hal ini dapat diminimalisir dengan membina jaringan bisnis (networking) seluas-luasnya melalui kerjasama dengan perusahaan-perusahaan sejenis yang sudah mapan melalui mekanisme sub-kontrak. Sedangkan untuk problem cash-flow, bisa diminimalisir dengan menekan pengeluaran semaksimal mungkin serta mengajukan negosiasi skema pembayaran dari klien melalui mekanisme permintaan down-payment atau membuka kesempatan kepada klien untuk membayar secara angsuran per bulan. Apabila memungkinkan, bisa dipikirkan juga dengan skema pembayaran re-curring yang dihitung berdasarkan jumlah per transaksi.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan apabila kita berharap agar usaha kita terus berkembang. Dalam sebagian besar proyek TI, terutama jasa, pada umumnya terdapat 3 hal yang krusial, yakni kualitas pekerjaan, ketepatan waktu, dan harga. Seringkali harga justru bukan menjadi hal yang penting mengingat umumnya proyek TI yang dikerjakan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi suatu perusahaan. Oleh karena itu, bila kita ingin terus eksis dan berkembang dalam industri ini maka kualitas pekerjaan yang prima dan ketepatan waktu seyogyanya harus senantiasa menjadi kredo dalam menjalankan setiap pekerjaan yang ada.

Juga ada baiknya kalau pengusaha TI pemula mulai berpikir untuk mulai fokus menawarkan solusi dibanding hanya menawarkan produk atau jasa semata. Solusi yang merupakan integrasi dari produk dan jasa membuka kesempatan bagi kita untuk memberikan layanan yang lebih luas dan terintegrasi kepada klien. Bayangkan bila kita berhasil membuat bundle software produksi kita dengan hardware merk terkenal dan juga ditunjang dengan jasa maintenance yang memadai, tentu penawaran tersebut akan jauh lebih menarik bagi calon klien daripada sekedar menawarkan produk atau jasa semata.

Lepas dari semua itu, terdapat satu hal khusus yang sangat penting untuk diperhatikan, yaitu kemampuan untuk membina relasi yang baik dengan klien. Bagi sebuah bisnis, klien adalah segalanya dan tanpa klien mustahil sebuah bisnis bisa bertahan. Selain mengharapkan kualitas kerja yang maksimal dan ketepatan waktu. Lebih bagus kiranya kalau kita juga menjalin hubungan profesional yang harmonis dengan klien kita. Menelpon secara periodik untuk mengkonfirmasi hasil kerja kita atau menelpon sewaktu mereka berulangtahun bisa menjadi sarana yang baik untuk menjadikan mereka klien yang setia dan memberikan referensi yang bagus kepada rekan-rekan mereka atas pekerjaan kita.

Walau jauh dari sempurna, penulis berharap agar tips diatas bisa menjadi referensi ringkas bagi calon-calon wirausaha TI di Indonesia. Memang tidak mudah menjadi pengusaha handal, namun dengan kerja keras dan ketekunan niscaya Tuhan akan menganugerahi kita untuk meraih kesuksesan. @Betley – 280907.

Tagged , , , , , , ,

Tujuh Pusat Perhatian Manajemen UKM

small_sevenMenurut Gerber (Guru manajemen UKM) dalam buku E-Myth yang fenomenal itu, setidaknya terdapat 7 hal yang harus diperhatikan dengan seksama oleh pebisnis pemula berskala kecil dan menengah (UKM) guna mencapai kesuksesan. Dia menyebut 7 formula tersebut sebagai Model Kesuksesan Bisnis (Business Success Model). Berikut ini saya coba menyampaikan ketujuh formula versi Gerber tersebut. Untuk lengkapnya saya merekomendasikan Anda untuk membaca buku E-Myth Revisited karya Michael E. Gerber.

Kepemimpinan: Kembangkan visi untuk bisnis Anda
Hal utama yang menyediakan arah dan tujuan untuk keseluruhan bisnis.

Pemasaran: Memahami konsumen Anda yang terbaik
Riset dan analisis konsumen Anda guna mengidentifikasi siapakah mereka, dimanakah mereka, dan mengapa mereka membeli dari Anda.

Uang: Bangunlah, ikuti, dan peliharalah cash flow yang dapat diprediksi
Pahamilah sisi keuangan perusahaan Anda. Perhatikan pergerakan uang dalam bisnis dan ciptakanlah nilai finansial perusahaan.

Manajemen: Bentuk dan berilah motivasi tim yang tepat
Cara Anda mengelola orang, sistem, dan sumber daya, termasuk mengembangkan infrastruktur dan budaya dalam perusahaan Anda.

Perolehan Prospek: Menciptakan kesadaran terhadap Anda pada khalayak sasaran Anda
Langkah-langkah yang dilakukan secara sistematis guna menarik konsumen untuk membeli produk atau jasa Anda.

Konversi Prospek: Menciptakan sistem penjualan yang dapat diprediksi
Proses konversi dari prospek menjadi konsumen, termasuk diantaranya penjualan dan pembukuan konsumen.

Pemenuhan Janji Kepada Konsumen: Memenuhi janji…tiap saat
Memenuhi janji yang telah disampaikan dalam proses Perolehan Prospek dan Konversi Prospek.

Tagged , , , , ,

How to Series – Presentasi Bisnis Kepada Calon Investor (2)

ppt4Setelah siap dengan Business Plan yang baik, langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan presentasi bisnis di hadapan calon investor. Hal ini merupakan aktivitas yang sangat vital dan akan menentukan apakah proposal bisnis Anda layak untuk diterima atau tidak. Siapapun calon investor Anda, baik individual maupun institusi, Anda harus memastikan bahwa presentasi tersebut mampu meyakinkan mereka untuk berinvestasi dalam bisnis Anda. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan guna menciptakan suatu presentasi bisnis yang berhasil:

1. Senantiasa berpikir positif.

Senantiasa berpikir positif akan membuat Anda rileks dan menunjukkan antusiasme yang wajar. Orang yang berpikir positif dapat dengan mudah dikenali dari tatapan matanya yang tajam namun lembut dan raut muka yang cemerlang. Dengan berpikir positif maka akan lebih mudah bagi Anda untuk membentuk optimisme dan meyakinkan calon investor bahwa Anda memiliki ide bisnis yang hebat dan Anda adalah orang yang tepat untuk menjalankan hal tersebut.

2. Kumpulkan informasi selengkap mungkin

Sebelum melakukan presentasi bisnis, lakukan riset mendalam dan pastikan bahwa Anda memiliki informasi yang relevan tentang latar belakang calon investor Anda selengkap mungkin. Ingatlah bahwa pengetahuan Anda tentang calon investor tersebut akan sangat membantu Anda guna memahami “cerita di balik layar” yang dilakukan oleh mereka dalam setiap pengambilan keputusan.

3. Berpenampilan Profesional

Dalam presentasi bisnis seperti ini maka penampilan yang profesional adalah sangat penting. Usahakan semaksimal mungkin untuk berpenampilan rapi dengan menggunakan jas atau minimal menggunakan dasi. Ingatlah bahwa penampilan yang profesional tidak mesti harus menggunakan pakaian mahal. Bilamana Anda laki-laki maka bercukurlah (well-groomed) dengan rapi agar Anda tampak fresh dan siap menghadapi tantangan.

4. Pastikan material pendukung tersedia dengan baik.

Anda harus memastikan bahwa laptop, LCD Projector atau material pendukung yang akan Anda gunakan dapat berfungsi dengan baik. Jangan sampai konsentrasi Anda terpecah karena hal-hal seperti ini.

5. Kuasailah Materi Anda Sebaik Mungkin

Banyak sekali presentasi bisnis yang gagal dikarenakan presenter kurang memahami materi yang disampaikannya. Hal ini jangan sampai terjadi karena akan mengurangi kredibilitas Anda di mata calon investor. Gunakan waktu yang memadai untuk mempelajari materi Anda sebaik mungkin dan berusahalah berpikir out of the box guna mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang mungkin diluar dugaan Anda.

6. Gunakan data yang akurat dan memadai.

Presentasi yang bagus adalah presentasi yang ditunjang dengan data-data yang akurat dan memadai. Gunakan grafik, tabel, dan perhitungan finansial yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimanapun juga aspek finansial merupakan salah satu faktir terpenting guna menarik minat investor.

7. Buatlah Presentasi yang Singkat, Padat, dan Jelas.

Presentasi yang baik bukanlah presentasi yang berisi puluhan slides Power Point namun tidak ada esensinya. Power Point hanyalah alat (tools) bagi Anda untuk menyampaikan gagasan Anda tentang bisnis tersebut. Gunakan slide presentasi secukupnya saja namun mampu menampung gagasan Anda secara komperehensif namun mudah dimengerti. Ingatlah selalu bahwa pemahaman mereka terhadap ide-ide bisnis Anda belum tentu sama dengan Anda, oleh karena itu sebisa mungkin gunakan bahasa yang umum dan jelas bagi orang yang awam dengan bisnis Anda. Kalau penguasaan bahasa Inggris Anda pas-pasan saja maka sebaiknya dihindari penggunaan bahasa Inggris guna kepentingan pamer atau gaya semata. Lain halnya kalau Anda melakukan presentasi di hadapan orang asing, maka sebaiknya menggunakan bahasa Inggris 100%.

8. Jujur, jujur, dan jujur.

Tetaplah jujur dalam setiap perkataan Anda, katakana bisa kalau memang bisa dan sebaliknya. Calon investor lebih menyukai pebisnis yang jujur dalam menyampaikan proyeksi bisnisnya di masa depan disbanding mereka yang suka membual dan menyampaikan angka-angka yang tidak masuk akal. Karena sekali Anda ketahuan berbohong maka hampir mustahil bagi Anda untuk dapat meyakinkan mereka kembali.

9. Dengarkan, jangan Cuma bisa bicara.

Mendengarkan (listening) pendapat orang lain merupakan suatu hal yang tampaknya mudah namun sangat sulit untuk dilakukan. Umumnya saking bernafsunya orang akan terus-terusan berbicara dan gagal menyerap aspirasi orang lain. Kalau hal ini terjadi maka akibatnya bisa fatal. Investor perlu meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka akan bekerjasama dengan orang yang kooperatif dan mau memahami pendapat orang lain.

10. Tetaplah tenang dan jangan ngotot.

Seringkali dalam presentasi bisnis kita akan bertemu dengan orang berbicara dengan sangat lugas, apa adanya (straight forward), dan tajam. Kalau kita tidak mengantisipasi hal itu dengan baik maka bukan tidak mungkin emosi kita akan terpancing. Bila hal tersebut terjadi maka bisa dipastikan presentasi itu akan gagal dengan prematur karena kita tidak berhasil mengendalikan diri kita. Hal yang perlu kita lakukan adalah tetap tenang, senantiasa berpikir positif, dan tidak ngotot. Dalam banyak kasus seringkali investor hanya ingin menguji dan memastikan bahwa kita memang memiliki mental entrepreneur yang sangat kuat.

11. Sampaikan prestasi (achievement) Anda dan testimoni dari orang atau lembaga yang berpengaruh.

Untuk mendukung presentasi bisnis Anda kepada investor maka Anda perlu memaparkan prestasi yang telah Anda capai hingga saat ini. Selain itu usahakan untuk memperoleh dukungan atau testimoni dari klien atau kolega yang puas dengan pekerjaan Anda. Akan lebih bagus kalau testimoni tersebut Anda peroleh dari orang atau lembaga terkemuka yang berpengaruh.

12. Jangan mudah menyerah dalam negosiasi.

Anda perlu mempersiapkan diri semaksimal mungkin guna menghadapi proses negosiasi untuk pembagian komposisi saham ataupun hal-hal lainnya. Persiapkanlah titik terendah (bottom-line) yang masih dapat Anda akomodir. Jangan mudah menyerah atau pasrah demikian saja terhadap tawaran dari investor karena bisa jadi hal ini akan Anda sesali di kemudian hari. Ingatlah selalu bahwa pada dasarnya negosiasi adalah suatu seni untuk menciptakan kompromi atas berbagai pendapat yang berbeda.

Secara garis besar tips-tips di atas akan sangat membantu Anda untuk menciptakan suatu presentasi bisnis yang powerful dan efektif di hadapan calon investor. Pada dasarnya investor hanya perlu diyakinkan bahwa bisnis yang sedang ditawarkan ini memiliki prospek yang bagus di masa depan dan Anda sanggup melindungi dana dan kepentingan mereka serta memberikan keuntungan sesuai dengan yang mereka harapkan. Bila Anda mampu memberikan semua itu maka niscaya Anda akan memperoleh investasi berapapun yang Anda butuhkan. @Betley-020909.

Tagged , , , , ,

How to Series – Presentasi Bisnis Kepada Calon Investor (Part 1)

business man with a dollar symbolSalah satu faktor terpenting bagi pebisnis adalah ketersediaan dana segar (fresh money) untuk membiayai operasional perusahaan. Meski bukan satu-satunya faktor, tapi ketersediaanya merupakan penentu bagi berdirinya suatu entitas bisnis. Namun demikian bagi pebisnis pemula untuk mendapatkan dana segar bukanlah persoalan yang mudah karena memang diperlukan adanya pengalaman, relasi bisnis dan luas, dan juga teknik-teknik khusus yang memadai. Dalam tulisan terdahulu saya telah mengulas tentang cara-cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh modal bisnis, oleh karena itu dalam kesempatan ini saya akan fokus untuk mengulas tentang tips dan teknik presentasi di hadapan calon investor guna memperoleh dana segar yang kita perlukan guna mendirikan suatu entitas bisnis.

Menurut saya alternatif ini jauh lebih menguntungkan dibanding alternatif pendanaan yang lain karena beberapa hal: 1) Lebih mudah bagi pengusaha pemula dibanding memperoleh pinjaman bank, 2) Bisa berbagi resiko dengan partner bisnis, 3) Tidak perlu membayar bunga dan menyertakan jaminan, 4) Kita bisa memperoleh nilai tambah dari partner yang berupa pengalaman, relasi bisnis, dsb. Tetapi harus disadari juga bahwa alternatif ini memiliki beberapa persyaratan dan juga kendala seperti: 1) Tidak mudah memperoleh partner yang sesuai, 2) Kita tidak memiliki kendali 100% terhadap bisnis kita, 3) Terdapat resiko perpecahan atau bisnis kita diambil-alih oleh investor kita.

Bila kita sudah yakin tentang alternatif pendanaan bisnis dari pihak eksternal, maka ada baiknya kita segera menyiapkan langkah-langkah strategis guna memastikan bahwa kita akan berhasil memperoleh kucuran dana dari mereka. Pada dasarnya terdapat beberapa jenis investor, diantaranya: 1) Investor Perorangan/Individual, 2) Lembaga Investasi Swasta/Venture Capital, 3) Investasi dari Pemerintah, dan 4) Investasi berbasis Sosial/Investasi dana CSR (Corporate Social Responsibilities)/PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan).

Pada dasarnya semua jenis investasi tersebut adalah baik dan menguntungkan dan lebih tergantung pada kesempatan yang Anda miliki untuk memperoleh akses ke investor tersebut di atas. Anda dapat mencari informasi tentang investasi dari lembaga swasta maupun pemerintah melalui media massa, internet, LSM, atau langsung datang ke institusi yang bersangkutan. Berdasarkan pengalaman saya BUMN diwajibkan menyisihkan dana beberapa persen dari keuntungan yang diperolehnya untuk dapat disalurkan sebagai permodalan bagi pebisnis berskala kecil dan menengah (UKM). Sepengetahuan saya Pertamina, BRI, Bank Mandiri, PNM, dsb menyediakan dana ratusan miliar dalam program PKBL tersebut namun penyalurannya tidak berlangsung dengan baik dikarenakan minimnya sosialisasi kepada masyarakat.

Setelah memperoleh informasi yang memadai mengenai calon investor, maka langkah selanjutnya ialah menyiapkan Business Plan dan presentasi bisnis kepada calon investor. Anda harus meyakinkan diri Anda bahwa Business Plan yang Anda buat merupakan dokumen terbaik yang pernah Anda buat sepanjang hidup Anda karena mungkin tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Terbaik disini bukan berupa dokumen yang menyajikan informasi super optimistis dengan angka-angka tinggi yang tidak masuk akal.

Business Plan yang bagus adalah dokumen yang menyajikan informasi yang: 1) Jujur/Honest, 2) Menyeluruh/Comprehensive, 3) Masuk akal/Doable, 4) Jelas/Clear, dan 5) Informatif, 6) Dirancang dengan profesional/Presentable. Kalau Anda berhasil membuat Business Plan seperti itu maka Anda sudah setengah jalan menuju keberhasilan. Saya akan menyampaikan anatomi Business Plan yang memiliki “nilai jual” tinggi dalam tulisan di lain waktu. @Betley-020909

Tagged , , , , , , , ,

Ad Astra Per Aspera

b339cda31a935677cb0cc76093fb13626db99f6b_mSlogan latin ini merupakan favorit saya “To the star through hardship”, demikian terjemahan dalam bahasa Inggris, atau kira-kira mirip dengan falsafah “jer basuki mowo beyo” dalam khazanah Jawa. Intinya menyemangati kita untuk senantiasa sadar bahwa guna meraih suatu keberhasilan maka diperlukan suatu kerja keras yang konsisten dan kontinyu. Saking populernya, ungkapan “Ad Astra Per Aspera” digunakan sebagai slogan oleh banyak institusi terkemuka di dunia termasuk diantaranya NASA, film Star Trek,  institusi kemiliteran, institusi pendidikan, dan bahkan terdapat dalam kemasan rokok Pall Mall.

Dalam konteks entrepreneurship, saya bisa dibilang merupakan penganut militan dari slogan tersebut. Saya percaya bahwa tidak ada keberhasilan yang bisa diperoleh secara instan atau berdasarkan keberuntungan semata. Bisnis yang sustainable dan berorientasi masa depan mestinya lahir dari proses yang didesain dengan baik dan tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan jangka pendek. Pada waktu pertama kali memutuskan terjun ke bisnis Software House, saya telah memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa pada masa depan, atau setidaknya dalam jangka waktu 10-15 tahun setelah saya memulai bisnis tersebut, industri Software akan maju pesat. Prediksi tersebut bukan saya peroleh dengan tiba-tiba, karena saya membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan juga riset yang cukup lama sebelum memutuskan untuk secara total terjun ke industri tersebut.

Pada saat itu (2005) industri software di Indonesia, khususnya yang menyasar sektor perbankan dan keuangan, masih didominasi oleh pemain asing dengan harga yang sangat mahal dan kualitas service yang kurang memadai. Kalaupun ada pemain lokal yang kuat jumlahnya tidak banyak dan mereka juga sudah mulai kewalahan menangani order yang ada. Adapun sektor perbankan dan keuangan saya pilih karena berdasarkan hasil riset saya, sektor tersebut merupakan sektor yang paling banyak tergantung dengan ketersediaan teknologi informasi. Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas lebih lanjut soal riset bisnis, namun lebih akan mengulas soal etos kerja yang diilhami oleh “Ad Astra Per Aspera”.

Meski di atas kertas semuanya terasa indah dan mudah, namun pada kenyataannya memang benar-benar sulit untuk membangun suatu bisnis yang sustainable dan berorientasi pada masa depan. Saya yang telah jatuh bangun beberapa kali dalam bisnis sebelumnya nyaris menyerah menghadapi kenyataan tersebut. Berulangkali saya harus menghadapi kesulitan yang diluar dugaan saya sebelumnya. Pada dasanya bisnis yang saya tekuni adalah bisnis jasa dimana “customer service excellence” merupakan prinsip dasar yang mutlak dan tidak bisa digugat lagi. Namun masalahnya bisnis saya mensyaratkan untuk merekrut tenaga ahli dalam bidang pemograman komputer (programming) yang notabene memiliki karakter dan kultur yang unik serta berbeda dari kebanyakan profesi lainnya.

Proses mengintegrasikan antara kebutuhan klien dengan performa dan pola kerja yang ditawarkan oleh staf kami sungguh merupakan pekerjaan yang sangat rumit dan melelahkan. Berkali-kali saya harus menghadapi kesulitan berkaitan dengan hal ini dan mesti berjibaku guna memastikan klien kami tetap memilih kami sebagai mitra kerjanya. Tak hanya itu, saya pernah nyaris digugat klien saya dikarenakan kesalahan yang ditimbulkan oleh salah satu staf kami. Hal tersebut hanyalah sedkit dar brbagai macami tantangan yang kami hadapi sebagai perusahaan penyedia jasa teknologi. Meski mulanya membuat saya frustasi namun seiring waktu berjalan dengan menerapkan konsep “Kaizen” (continuous improvement) dan belajar dari pengalaman yang ada maka perlahan tapi pasti kami mulai menemukan pola kerja yang paling tepat bagi kami. Saat ini bisa dibilang kami merupakan salah satu penyedia layanan sofware perbankan dan keuangan terkemuka di Indonesia.

Pengalaman mengajarkan pada saya bahwa tidak ada keberhasilan yang instan dan mudah untuk dicapai. Semuanya membutuhkan kerja keras, ketekunan, kemauan untuk belajar, dan terutama daya tahan yang luar biasa guna menghadapi setiap permasalahan yang ada. Saya terinspirasi oleh mentor virtual saya, pengusaha Inggris terkemuka, James Caan. Sewaktu ditanya tentang resep kesuksesannya James Caan menjawab: “Unfortunately there is no secret recipe – great businesses are 5% concept, 95% execution- so believe me, there is no substitute for hard work, I’m sorry to say”. @Betley – 310809

Tagged , , , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.