Posted in September 2010

A Journey of Father & Son

Once upon a bright, sunny morning a man and his young son left their farm to make a trip into town. The boy rode atop their donkey as the father walked alongside. Along the road they encountered a fellow from the nearby village. “You should be ashamed of yourself!” the fellow said, admonishing the boy. “You ride comfortably while your poor, old father has to walk. You have no respect!” The boy and his father first sheepishly exchanged glances, then exchanged places.

As the two continued their journey, they chanced upon another fellow. “You selfish old man!” he said. “You take the easy ride while your poor son wears himself out trying to keep up. You should at least let the boy ride also.” Not wishing to offend, the old man helped his son climb aboard. The pair then continued their journey.

Before long, they came upon a woman coming from the opposite direction. She, too, found fault with their arrangement. “I’ve never seen such cruelty! You two lazy louts are too heavy for that poor donkey. It would be more fitting for the two of you to be carrying the animal.” Not wishing to fall from favor with the woman, the man directed his son to bind the donkey’s front hooves together, then back hooves together. Meanwhile, the man himself cut a long, sturdy pole from a nearby tree. The pair laid the animal down, slid the pole through his bound hooves, then lifted the pole to their shoulders-the father on one end, the boy on the other, the donkey hanging upside- down on the pole between them. Carrying the donkey, the pair trudged along. As they crossed the bridge that lead into town, the upside-down donkey saw his reflection in the water below from an angle that he had never before seen. The animal became frightened and suddenly thrashed about violently, causing the pair to lose their grips on the pole. Before they could grab him, the donkey fell off the narrow bridge into the water below. Still bound, the donkey was unable to swim. From the bridge, the father and son helplessly watched as their donkey sank out of sight, into the deep water below.

Moral:

After a moment of silent reflection, the father turned to the boy and spoke: “Son, we learned a valuable lesson today. We learned that when you try to satisfy everyone you end up losing your ass.”

Source: internet (I forgot the web address, please let me know if you find the original creator. Tq)

Tagged , , , , ,

Apa itu Entrepreneurship? (Revisited)

Apa itu Entrepreneurship? Meski kata ini sangat populer akhir-akhir ini, namun tak ada salahnya kalau kita coba memahami definisi dan makna sebenarnya dari kata ini. Sering juga disebut dengan kewirausahaan, terdapat banyak sekali definisi dari Entrepreneurship. Salah satu definisi yang menurut saya mudah dipahami adalah definisi dari Bapak Manajemen Modern, Peter F. Drucker. Drucker mendefinisikan Entrepreneurship sebagai ”… aktivitas yang konsisten dilakukan untuk mengkonversi ide-ide yang bagus menjadi aktivitas yang menguntungkan”. Kata kunci dari definisi yang disampaikan oleh Drucker adalah: Konsistensi, Konversi, Ide-ide, dan Menguntungkan.

Dengan kata lain sangatlah jelas bahwa Entrepreneurship membutuhkan adanya suatu aktivitas yang konsisten dari Entrepreneur guna memperoleh keuntungan dari hasil konversi ide-ide bisnisnya. Awal dari Entrepreneurship adalah ide-ide bisnis yang cemerlang dan berpangkal pada timbulnya keuntungan dari aktivitas tersebut. Hal lain yang penting menurut Drucker guna menjamin kesuksesan proses tersebut adalah konsistensi dari entrepreneur untuk melakukan setiap aktivitasnya. Konsistensi yang diikuti dengan determinasi atau sikap pantang menyerah merupakan karakter fundamental yang wajib dimiliki oleh mereka yang ingin sukses sebagai entrepreneur.

Selain definisi tersebut guna lebih mempermudah pemahaman terhadap Entrepreneuship. saya merumuskan satu definisi Entrepreneurship yang terilhami oleh formula tentang energi yang diciptakan oleh Albert Einstein, yakni formula:

E=mc2

E: Entrepreneurship, m: Maximum Effort, c: Commitment dan c:Creativity.

Menurut saya, Entrepreneurship adalah kolaborasi dari adanya Maximum Efforts atau usaha yang maksimal dari individu atau kelompok individu yang terlibat dalam proses tersebut, dan adanya Commitment (Komitmen) dari pihak yang terkait untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, serta kreativitas untuk menemukan dan menjalankan ide-ide bisnis yang tepat sasaran.

Maximum Efforts berarti adanya keputusan untuk menjalankan setiap aktivitas yang diperlukan dengan semangat dan kesungguhan100%. Berdasarkan pengalaman pribadi dan juga hasil berguru pada para pengusaha yang berhasil, saya menemukan pola yang sama diantara mereka yakni bahwa setiap usaha meraka pasti dijalankan dengan kesungguhan melebihi ekspektasi yang disampaikan pihak lain kepada sang pengusaha. Fakta di lapangan mengajarkan kepada saya bahwa mereka yang dari mulanya hanya berniat “mencoba” untuk berusaha umumnya tidak akan bertahan lama dalam bisnis tersebut dan kalaupun bertahan tidak akan beranjak dari posisinya sebagai medioker. Kalimat bijak yang paling menginspirasi saya sehubungan dengan hal ini adalah “Man jadda wajada” yang bermakna “barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mencapai tujuan yang diinginkan”. Oleh karena itu bila Anda memang berminat untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses maka pastikanlah Anda menjalankannya segenap hati dan dengan penuh kesungguhan. Karena jika tidak maka bisa jadi Anda akan membuang waktu percuma dalam hidup Anda.

Commitment atau komitmen adalah kunci penting dalam kesuksesan berbisnis. Tanpa adanya komitmen dari individu atau kelompok individu yang bersangkutan maka bisa dipastikan bisnis tersebut tidak akan bertahan lama. Komitmen sangat erat hubungannya dengan TRUST atau kepercayaan diantara individu yang terlibat. Tanpa adanya komitmen yang kuat dari semua pihak maka tidak akan terbentuk trust yang merupakan fondasi penting dari kelangsungan suatu bisnis. Komitmen dalam konteks bisnis berhubungan dengan komitmen untuk fokus pada aktivitas bisnis, komitmen waktu,  komitmen finansial, dan komitmen pemenuhan janji kepada stakeholders yang terlibat seperti pada konsumen, karyawan, supplier, bank, pemerintah, dsb. Sangatlah penting untuk meninjau komitmen dari diri Anda sendiri dan semua pihak yang terkait sebelum memulai bisnis. Intinya sekali berkomitmen maka wajib kiranya untuk melakukan hal apapun guna memenuhi komitmen tersebut.

1% action atau tindakan nyata jauh lebih bermanfaat daripada 99% wacana

Creativity atau kreativitas berhubungan dengan kelihaian dari pengusaha untuk mengendus setiap peluang sekecil apapun yang ada dan mengolahnya menjadi suatu bisnis yang menguntungkan (profitable) dan bertahan lama (sustainable). Selain lihai mengidentifikasi setiap peluang yang ada, pengusaha yang berhasil memiliki karakter untuk menindaklanjutinya dengan ACTION atau tindakan yang nyata. Juga tak kalah pentingnya adalah kreativitas pengusaha untuk menghadapi dan menyelesaikan setiap tantangan yang ada. Realitas yang ada menunjukkan bahwa semua pengusaha berhasil bisa dipastikan pada masa-masa tertentu akan menghadapi tantangan dalam bisnis. Hal tersebut seyogyanya dimaknai sebagai suatu proses upgrading untuk membawanya ke level yang lebih tinggi. Kreativitas tidak turun dari langit dan oleh karenanya bisa dipelajari oleh semua orang yang memiliki kemampuan.

Definisi tersebut di atas saya formulasikan dengan maksud untuk mempermudah pemahaman awal tentang Entrepreneurship. Namun mulai dari awal hingga akhir, Anda akan menemukan bahwa blog ini merupakan blog yang berorientasi pada ACTION (Action Oriented), karena saya percaya bahwa 1% action atau tindakan nyata jauh lebih bermanfaat daripada 99% wacana. @Betley15092010

Tagged , , , , , ,

NLP Series-S.W.I.S.H Pattern

Salah satu pattern atau teknik dari NLP (Neuro Linguistic Programming) yang paling sering saya gunakan adalah SWISH Pattern. Kenapa? Karena teknik ini sangat mudah dilakukan oleh siapapun bahkan oleh mereka yang sama sekali belum mengenal NLP. SWISH Pattern sangat efektif untuk menghalau segala macam pikiran-pikiran negatif yang seringkali menyesakkan kita.

Presuposisi atau Prinsip Berpikir yang mendasari teknik ini adalah “The map is not the territory” alias “menu bukanlah makanan sesungguhnya” atau bisa dijabarkan bahwa pada dasarnya kita tidak bereaksi langsung terhadap REALITAS namun kita bereaksi terhadap PERSEPSI kita tentang realitas. Nah, disini kuncinya, karena kita hanya berhubungan dengan persepsi maka selama kita bisa mengelola persepsi maka kita bisa mengatasi pikiran-pikiran negatif yang menekan.

Terdapat bermacam-macam varian dari SWISH Pattern yang merupakan hasil pengembangan dari para developer NLP. Namun untuk alasan kepraktisan dan kemudahan maka saya akan menampilkan SWISH Pattern Classic dari Richard Bandler, Co-Founder NLP.

1. Pilihlah sebuah pikiran negatif yang menekan Anda dan buatlah menjadi gambar yang tidak bergerak (still picture). Imajinasikan gambar itu menjadi besar dan terang yang mewakili tekanan perasaan tersebut. Sisihkan untuk sementara dan beri nama gambar “TEKANAN”.

2. Pikirkan suatu situasi dimana Anda merasa memiliki kendali penuh (KONTROL) atas diri Anda dan memiliki semua pilihan yang diperlukan. Buatlah gambaran tersebut menjadi sangat nyata (vivid) dan ambil gambarnya (still picture). Sisihkan untuk sementara dan beri nama gambar yang “DIINGINKAN”.

3. Ambil gambar “TEKANAN” tersebut dan posisikan gambar buram dari gambar “DIINGINKAN” pada sudut kiri bawah. Seperti posisi insert dalam foto di surat kabar atau majalah. Lantas buat gambar yang terang dan besar (gambar TEKANAN) itu tiba-tiba menjadi gelap, lalu gambar kecil dan buram (gambar DIINGINKAN) secara bersamaan membesar untuk menggantikannya dan semakin lama semakin besar dan terang.

4. Lakukan proses ini selama 5-6x secara berurutan dan cepat. Ucapkan SWISH! pada setiap prosesnya. Setelah itu buka mata Anda sedetik setelah setiap giliran.

5. Test untuk melihat hasilnya.

Top Tips:
- Kecepatan proses SWISH.
- Test dengan memunculkan gambar “TEKANAN”, pada umumnya gambar tersebut akan semakin sulit muncul setelah proses tersebut.
- Coba berkali-kali sampai Anda menguasai teknik ini.

Selamat Mencoba! @Betley140912010

Tagged , , , , , , ,

NLP Series-Well-formed Objectives

Sebagai seorang praktisi Neuro Linguistic Programming (NLP), saya berkesempatan untuk mempelajari salah satu teknik paling powerful dari NLP, yakni teknik Well-formed Objective (Tujuan yang dibentuk dengan baik). Teknik tersebut membantu kita untuk menentukan tujuan, baik tujuan yang sifatnya Ultimate maupun Intermediate, dengan lebih efektif. Selain aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, teknik ini juga sangat mudah dipraktekkan. Meskipun terdapat banyak sekali paparan yang disampaikan oleh developer NLP, namun pada bagian ini saya akan fokus untuk menyampaikan teknik orisinal yang disampaikan oleh “Bapak NLP”, Richard Bandler.

1. Nyatakan dalam Kalimat POSITIF

Pada dasarnya otak kita tidak mengenali kata-kata yang sifatnya negatif (tidak, jangan, bukan, dsb). Oleh karena itu alih-alih menentukan tujuan “tidak mau miskin” maka nyatakanlah tujuan Anda dengan “memiliki kekayaan senilai sekian rupiah”. Pastikan bahwa Anda memiliki keyakinan penuh terhadap tujuan Anda tersebut.

2. Tujuan Berdasarkan INISIATIF dan KONTROL Diri Kita Sendiri

Tujuan yang Anda tentukan hendaknya dimulai oleh dan dipertahankan pelaksanaanya oleh Anda sendiri. Dalam konteks NLP, pihak yang bertanggungjawab dalam setiap tindakan adalah “saya” dan bukannya orang lain. Tujuan yang tergantung oleh orang lain bukanlah tujuan yang well-formed. Definisikan juga sumber daya (resources) dan perilaku (behaviour) yang Anda perlukan guna mencapai tujuan tersebut. Gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk membantu Anda:

§  Apa yang bisa dan akan Anda lakukan untuk mencapai tujuan tersebut?

§  Apakah langkah pertama yang Anda lakukan untuk memperoleh yang Anda inginkan?

§  Bagaimana Anda dapat memperoleh apa yang Anda perlukan untuk mencapai tujuan Anda?

3. Tetapkan Tujuan dalam Kalimat yang Mendayagunakan INDERA Kita.

Tujuan yang efektif wajib didefinisikan dan dibuktikan dengan keseluruhan indera kita. Setidak-tidaknya adalah VAK yang meliputi indera penglihatan (Visual), pendengaran (Auditory), dan perasa (Kinesthetic). Hal ini penting karena hal ini memotivasi Anda untuk mencapai tujuan yang Anda tetapkan. Gunakan pertanyaan berikut untuk membantu Anda:

§  Apakah yang Anda LIHAT sewaktu tujuan tersebut telah tercapai?

§  Apa yang Anda DENGAR ketika tujuan terwujud?

§  Apakah yang Anda RASA ketika Anda telah mencapai tujuan tersebut?

§  Kapan dan dimana tepatnya?

4. Cek EKOLOGIS Terhadap Diri Kita Sendiri maupun Orang Lain

Tujuan yang telah ditetapkan wajib mendukung keseluruhan ekosistem yang ada dan selaras dengan kepentingan diri kita sendiri, keluarga, teman, orang lain, dan bahkan kepentingan seluruh umat manusia. Semaksimal mungkin Anda wajib memilih tujuan yang sifatnya win, win, win untuk seluruh pihak yang terlibat. @Betley14092010

Tagged , , , , , ,

Kategori Tujuan

Secara garis besar terdapat dua jenis tujuan, yaitu Ultimate Objective dan Intermediary Objective. Ultimate Objective merupakan tujuan paling utama yang Anda inginkan dalam hidup Anda sedangkan Intermediary Objective adalah tujuan antara yang sifatnya lebih temporer dan jangka pendek. Sedangkan ditinjau dari jenisnya, terdapat beberapa jenis tujuan yakni:

1. Karir/Bisnis

Tujuan ini berhubungan dengan dunia karir atau bisnis Anda. Apakah karir idaman Anda di masa datang? Posisi apa yang Anda idam-idamkan? Apakah Anda ingin menjadi profesional atau entrepreneur? Jenis bisnis apa yang ingin Anda tekuni? Penghargaan apa yang ingin Anda peroleh dalam dunia karis/bisnis?

2. Finansial

Tujuan ini seringkali disalahartikan sebagai satu-satunya tujuan dalam hidup. Berapakah uang yang Anda perlukan? Investasi apa yang Anda idamkan di masa depan? Berapa properti yang ingin Anda miliki? Berapa tabungan yang hendak Anda miliki? Lifestyle seperti apa yang Anda ingin jalankan dengan uang Anda?

3. Sosial

Bagaimana kehidupan sosial Anda di masa depan? Seperti apakah pandangan masyarakat terhadap Anda yang Anda inginkan? Status sosial seperti apa yang Anda dambakan? Teman dan sahabat seperti apa yang ingin Anda miliki? Organisasi sosial apa yang Anda inginkan untuk bergabung? Kontribusi apa yang hendak Anda berikan untuk masyarakat?

4. Pengembangan Diri/Mental

Ketrampilan apa yang ingin Anda miliki di masa datang? Training atau workshop apa yang ingin Anda ikuti untuk meningkatkan kemampuan personal Anda? Apakah Anda berencana untuk mengambil pendidikan yang lebih tinggi? Apa hobby yang ingin Anda tekuni?

5. Fisik

Tujuan ini berhubungan dengan kondisi tubuh Anda. Apakah harapan Anda untuk tubuh Anda? Apakah Anda ingin bugar? Bagaimana pola makan yang Anda kehendaki? Bagaimana postur ideal yang Anda kehendaki? Apakah Anda hendak memulai program diet dan berolahraga?

6. Keluarga

Apakah kehidupan keluarga yang ideal menurut Anda di masa depan? Apakah Anda ingin meluangkan waktu yang lebih banyak bersama keluarga? Apakah Anda ingin mengembangkan hubungan komunikasi antara Anda dan pasangan atau dengan anak-anak? Apa rencana Anda untuk menjalin keakraban dengan seluruh keluarga besar Anda? Apa ide Anda untuk membahagiakan orang tua Anda?

7. Spiritual

Pada umumnya ujung dari suatu tujuan hidup manusia adalah tujuan spiritual. Bagaimanakah kehidupan spiritual yang Anda harapkan di masa depan? Apakah Anda ingin menunaikan ibadah haji/umroh atau berziarah ke Yerusalem/Lourdes? Bagaimana rencana pengembangan kehidupan spiritualitas Anda? Apakah Anda merasa batin Anda kosong dan memerlukan pengembangan spiritualitas? Apakah Anda tertarik untuk bergabung dengan organisasi keagamaan? @Betley14092010

Tagged , , , , , , ,

Kenapa Anda Perlu Tujuan?

Seringkali saya mendengar teman berbicara tentang “my life flows like water to the sea of life” atau biarlah hidup mengalir seperti air menuju sungai kehidupan. Sebagian dari mereka menjalani hidup dengan pasrah layaknya berjalan di padang pasir tanpa peta dan kompas sebagai penunjuk arah. Setiap hasil positif yang diperoleh dimaknai sebagai suatu keajaiban yang sama sekali tidak bisa diprediksi.

Namun pada sisi lain kalau kita telaah dengan lebih seksama, hampir semua ajaran agama dan spiritualitas yang pernah saya ketahui menyampaikan bahwa hendaknya manusia memiliki tujuan yang spesifik dalam menjalani hidupnya. Tujuan tersebut berupa tujuan spiritualitas maupun non spiritualitas seperti tujuan dalam bermasyarakat, berkeluarga, berbisnis, dsb.

Dalam konteks entrepreneurship, terdapat beberapa penjelasan dari Robert (2007, hal 72) tentang perlunya tujuan hidup yang spesifik yang relevan, diantaranya ialah:

- Tujuan membuat Anda tetap FOKUS.

- Tujuan memberi Anda sesuatu untuk DIRAIH.

- Tujuan membuat ide-ide dan SOLUSI terus mengalir.

- Tujuan membuat Anda ANTUSIAS.

- Tujuan memberikan gambaran RUTE dalam kehidupan.

- Tujuan memberikan ARTI dalam hidup Anda.

- Tujuan membantu Anda untuk tetap PRODUKTIF.

- Tujuan memberikan KEJELASAN dalam pembuatan keputusan.

- Tujuan menyediakan ALAT UKUR dalam mempertimbangkan suatu ide.

- Tujuan membantu Anda untuk tetap TERORGANISIR.

- Tujuan membantu Anda untuk MEMPROMOSIKAN diri Anda kepada orang lain.

- Tujuan membantu Anda MENILAI produktifitas dan efektifitas Anda.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa memiliki tujuan yang spesifik dan TERTULIS akan sangat membantu Anda untuk menyusun peta jalan sukses (success roadmap) Anda. @BHS01092010

Tagged , , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.