Posted in July 2009

Ide Ekstrem, Siapa Takut?

drop-koji-suzukiSeperti yang telah saya ulas dalam tulisan terdahulu, saat ini rasa-rasanya susah sekali menemukan ide yang 100% orisinal. Belum lagi fakta bahwa orang Indonesia (dan Asia pada umumnya) dikenal sangat piawai dalam mencontek ide yang baru muncul. Hal itu menuntut pengusaha untuk senantiasa kreatif dan hadir dengan inovasi-inovasi baru guna keluar dari apa yang disebut Red Ocean alias pasar yang sudah sangat sesak.

Namun bagi Anda yang kebetulan diberkahi dengan daya imajinasi yang tinggi, maka tak ada salahnya untuk mengaktualisasikan ide-ide Anda menjadi  suatu mesin uang yang produktif dan sustainable. Contoh paling aktual dari konsep ini ada pada sosok Koji Suzuki (52), seorang penulis buku horror bestseller asal Jepang. Koji adalah satu novelis legendaris Jepang yang beberapa karyanya sempat dibuat menjadi film layar lebar, diantaranya adalah film The Ring yang sangat populer itu.

Disini tentu saja saya tidak bermaksud untuk mengulas soal novel tersebut mengingat saya bukanlah penggemar novel horror atau kritikus sastra. Hal yang ingin saya ulas adalah soal kemampuan Koji (beserta team bisnisnya) untuk membawa novel horror tersebut melampaui batas-batas pemikiran konvensional dan berhasil membawa kreatifitasnya tersebut ke jenjang kesuksesan bisnis bagi dirinya.

Koji  dan team bisnisnya memiliki  ide untuk mencetak novel-novel horror tersebut dalam media kertas tissue toilet, ya benar, kertas tisu toilet! Meski terasa absurd namun faktanya ide tersebut sukses luar biasa di Jepang. Bisakah Anda membayangkan malam-malam duduk di atas kloset sendirian sambil membaca novel The Ring? Sensasinya pasti luar biasa. Koji dan teamnya sukses membaca peluang yang ada dalam kultur kontemporer masyarakat urban di Jepang yang terobsesi dengan personifikasi hantu di toilet. Meski dijual dengan harga premium  dibanding kertas tisu toilet biasa namun tetap saja permintaan terus mengalir untuk tisu unik Koji.

toilet paperDengan ide yang cukup ekstrem, Koji dan teamnya berhasil menciptakan mesin uang bagi mereka dan sekaligus menciptakan suatu produk baru yang sama sekali diluar dugaan dari pesaing mereka. Dengan menancapkan positioning sebagai pionir dalam produk ini maka bisa dipastikan posisi Koji sebagai produsen tisu unik ini akan berada dalam posisi atas untuk jangka waktu yang lama. Bukankah yang pertama lebih mudah diingat?

Saya membayangkan bahwa pada waktu pertama kali ide tersebut dimunculkan bisa jadi ada pihak yang mencibir atau merendahkan ide tersebut. Memang bagi mereka yang terbiasa berpikir linier dan kurang terbuka terhadap ide-ide yang ekstrem, mungkin akan kesulitan mengikuti nalar dari para innovator. Sejarah mencatat produk Post It, Aqua Botol, Lampu Bolam, dan banyak produk inovatif lainnya dihasilkan dari orang-orang kreatif yang mau berpikir out-of-the box. Saya masih ingat sekali dengan fakta bahwa dulu di Indonesia air putih dalam kemasan harganya bisa lebih mahal dari bensin premium dalam takaran yang sama. Opo tumon? Kata orang Jawa.

Oleh karena itu apabila kebetulan Anda adalah orang yang dikarunia kemampuan imajinasi yang tinggi dan kemampuan untuk berpikir out-of-the-box, maka bisa jadi kesuksesan Anda sebenarnya sudah ada di ujung jari Anda. Cobalah! Karena kita tidak akan pernah tahu hasilnya sebelum mencobanya. @Betley 220709

Tagged , , , ,

How to Series – Mencari Modal Bisnis

modal usahaSetiap usaha, apapun itu, pasti memerlukan modal. Meskipun demikian, seperti telah saya singgung dengan sangat gamblang dalam tulisan terdahulu, menurut saya modal itu tidak hanya dalam bentuk uang, tapi bisa berupa modal ketrampilan (skill) , jaringan bisnis (business network), atau calon klien.

Diluar modal yang sifatnya intangible seperti ilustrasi saya tersebut, modal yang sifatnya tangible (dapat dikuantifikasi) dalam bentuk uang segar (fresh money) tetaplah penting. Namun bagi Anda yang saat ini belum memiliki modal dalam bentuk dana cash, maka tulisan berikut mungkin dapat digunakan sebagai referensi bagi Anda. Berikut adalah sumber-sumber permodalan dalam memulai suatu usaha baru, terutama usaha yang bersifat UKM.

1. Tabungan
Sumber ini adalah sumber permodalan yang paling lazim digunakan. Selama Anda bekerja untuk orang lain maka Anda harus menyisihkan pendapatan Anda secara berkala sampai pada suatu masa Anda merasa cukup untuk memulai suatu usaha mandiri. Sewaktu saya masih bekerja untuk orang lain, waktu itu saya membutuhkan hingga 1 tahun untuk memperoleh Rp 15 juta yang akhirnya saya gunakan untuk memulai suatu usaha perdagangan. Alhamdulilah dalam jangka waktu 6 bulan usaha tersebut bangkrut. Tapi saya cukup bahagia karena setidaknya saya telah belajar tentang bagaimana memulai suatu usaha yang nantinya bisa saya gunakan sebagai bekal untuk masa depan saya.

2. Pinjaman Keluarga
Kalau kebetulan Anda memiliki anggota keluarga yang cukup mampu dan tampaknya cukup bermurah hati untuk meminjamkan dana terhadap Anda, maka mungkin Anda dapat memilih alternatif ini. Kalau saya pribadi sebenarnya kurang merekomendasikan metode ini mengingat ada resiko sengketa dengan pemberi pinjaman yang notabene adalah keluarga kita. Saya ingat pernah meminjam uang kepada anggota keluarga saya guna memulai suatu usaha kecil, untungnya waktu itu usahanya cukup jalan sehingga saya bisa memberi return kepada dia sebesar 5% per bulan selama hampir 1 tahun hingga akhirnya saya bisa mengembalikan pinjaman tersebut secara utuh.

3. Pinjaman Bank
Alternatif ini juga merupakan alternatif yang sangat populer bagi pengusaha. Namun sayangnya banyak pengusaha UKM yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk memiliki usaha yang profitable, namun tidak bankable. Hal itu terjadi karena umumnya pengusaha UKM kurang memperhatikan aspek-aspek legal formalistik dan dokumentasi, seperti misalnya: pengurusan ijin-ijin usaha yang belum ada atau belum lengkap, pembukuan dan akuntansi yang tidak rapi, dokumentasi PO atau Kontrak Kerja yang tidak lengkap, dsb.

Juga problem klasik yang ada adalah tidak adanya collateral (jaminan) yang dapat kita berikan pada bank guna mengucurkan kredit pada pengusaha. Dalam opini saya pribadi terus terang agak susah atau nyaris mustahil bagi pengusaha pemula guna memperoleh permodalan dengan metode ini. Pihak bank akan bersikap sangat pragmatis dengan hanya memberikan kredit kepada pihak yang memiliki peluang besar untuk mengembalikan kredit tersebut.

4. Kartu Kredit/Kredit Tanpa Agunan (KTA)
Dalam kasus tertentu kalau Anda yakin dengan rencana bisnis Anda dan bahkan Anda sudah memperoleh kepastian PO atau kontrak dari klien, maka tak ada salahnya menggunakan kartu kredit yang Anda miliki sebagai modal kerja. Namun demikian Anda mesti ekstra waspada karena bunga Kartu Kredit dan Kredit Tanpa Agunan sangat besar yakni berkisar 3,75% hingga 4% per bulan. Oleh karena itu Anda mesti yakin bahwa return yang akan Anda peroleh harus lebih besar dari nilai tersebut, dan jangan lupa Anda harus memastikan bahwa collection (pembayaran dari klien) Anda tepat waktu guna memperkecil resiko Anda terlambat membayar cicilan hutang Anda yang berakibat pada pengenaan skema bunga berbunga. Intinya berpikirlah secara bijaksana dan berulang-ulang kali sebelum memutuskan menggunakan metode ini.

5. Pegadaian/Rahn
Jika kebetulan Anda memiliki simpanan barang berharga (emas, berlian, dsb), maka skema Gadai (atau Rahn dalam konteks ekonomi syariah) dapat menjadi alternatif permodalan yang paling memadai. Disamping syaratnya yang sangat mudah dan tidak berbelit-belit, bunga ataupun skema bagi hasil yang dikenakan juga tidak seberat apabila kita melakukan hutang pada kartu kredit atau kredit tanpa agunan. Untuk biaya bunga atau nisbah, Anda dapat menggunakan dari keuntungan usaha yang Anda peroleh. Namun demikian prinsip kehati-hatian wajib dilakukan, Anda harus memiliki keyakinan bahwa usaha yang Anda jalankan dapat berjalan dengan baik dan memberikan return yang memadai.

6. Stok Konsinyasi/Kerjasama dengan Supplier
Menjadi broker atau perantara dagang merupakan suatu alternatif usaha yang bisa Anda tempuh. Metode ini memungkinkan Anda menjual suatu barang tanpa terlebih dahulu membayarkan uang muka. Jikalau produk laku maka Anda akan memperoleh komisi dan apabila tidak maka Anda bisa mengembalikannya kepada produsen. Menurut saya ini adalah metode paling sederhana guna memulai suatu usaha dan sangat tepat untuk dilakukan bagi mereka yang masih pemula karena memang metode ini menawarkan resiko yang paling minimal. Kunci utama untuk metode ini adalah Anda harus bisa menemukan orang atau perusahaan yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap Anda. Karena dasar dari metode ini adalah trust (kepercayaan) semata. Oleh karena itu bila Anda berniat menjadi seorang pengusaha, sejak awal Anda perlu memastikan bahwa Anda merupakan orang yang dapat dipercaya.

7. Partners & Shareholders
Metode ini adalah metode yang paling banyak saya gunakan apabila hendak memulai suatu bisnis. Anda dapat mengajak beberapa orang guna bekerjasama guna mengembangakan suatu usaha bersama. Modal yang dapat Anda libatkan bisa dalam bentuk dana atau ketrampilan (skill), jaringan (network), serta klien. Dalam konsep syariah, hal ini dikenal dengan konsep syirkah dimana bentuk kerjasamanya dikenal sebagai musyarakah atau mudharabah. Lagi-lagi hal ini sangat bergantung pada kepercayaan (trust) diantara sesama pemegang saham.

Meski kita dapat membentengi kerjasama ini dengan berbagai langkah hukum namun tetap saja faktor kepercayaan merupakan faktor yang paling utama. Dalam metode ini, Anda harus memastikan bahwa Anda mampu menjalin kerjasama yang baik dan harmonis dengan partner Anda. Menurut saya hal tersebut merupakan hal yang paling sulit. Perlu diingat bahwa kerjasama bisnis merupakan kerja sama yang sifatnya jangka panjang sehingga Anda harus memastikan bahwa Anda nyaman dan cocok bekerjasama dengan partner Anda. Banyak bisnis dengan metode ini yang hancur di tengah jalan dikarenakan kegagalan dalam menjalankan komitmen awal yang telah dibuat.

8. Joint Ventures
Dalam kondisi tertentu terdapat beberapa lembaga donor yang siap mengucurkan dana guna membantu perusahaan baru (start-up) untuk mengembangkan bisnisnya. Apabila Anda menemukan lembaga seperti itu dan Anda bisa mendapatkannya maka sebaiknya segera diambil karena metode ini menawarkan kesempatan emas guna mengembangkan usaha dengan biaya bunga yang sangat ringan dan bahkan bisa gratis. Sayangnya lembaga-lembaga donor tersebut tidak banyak tersedia di Indonesia dan kalaupun ada hanya dapat ditemui di lokasi bencana atau sesuatu yang sifatnya seremonial belaka.

Demikian adalah beberapa metode pembiayaan yang dapat Anda pilih guna membantu aspek pendanaan usaha Anda. Pilihlah metode yang sesuai dengan karakter bisnis Anda serta kepribadian Anda. Kalau Anda termasuk orang yang bersifat safe player, maka sebaiknya memilih alternatif pembiayaan dengan resiko minimal seperti: pegadaian atau pinjam keluarga. Dan sebaliknya kalau Anda sangat yakin dengan prospek usaha Anda dan Anda merupakan orang dengan karakter yang agresif, maka hutang bank, kartu kredit, KTA mungkin menjadi sesuatu yang tidak masalah bagi Anda. Akhir kata apapun metode yang Anda pilih, lakukan dengan bijaksana dan pertimbangkan dengan masak-masak pilihan Anda karena hal itu akan menentukan sukses tidaknya Anda di masa depan. @Betley-210709

Tagged , , , , ,

How to Series – Menemukan Ide Bisnis

idea-bulb-neon-300pxSetelah memahami makna Entrepreneurship dan memiliki mindset yang tepat, maka tibalah saatnya untuk ACTION! Karena kesuksesan adalah milik mereka yang mewujudkan mimpinya dan bukan pemimpi itu sendiri. Langkah pertama yang diperlukan adalah menemukan ide-ide bisnis yang tepat dan sesuai. Menurut saya menemukan ide bisnis bisa dibilang gampang-gampang susah karena memang memerlukan daya imajinasi yang kuat, kepekaan, dan kemampuan untuk membaca peluang.

Sampai tiba saatnya kita berteriak Eureka!, seperti Einstein, maka bisa dipastikan proses tersebut tidak berlangsung dengan mudah. Pasti akan melibatkan serangkaian pemikiran dan usaha yang tidak sedikit untuk menemukan ide tersebut. Orang bijak bilang “Nothing so powerful than idea arriving at the right time” atau “tidak ada yang sedemikian berharga dibanding ide yang hadir pada saat yang tepat”. Saya  termasuk orang yang percaya dengan hal tersebut, oleh karena itu langkah awal yang krusial dalam memulai bisnis adalah menemukan ide yang “right-fittest” alias tepat dan sesuai untuk Anda.

Odong2Pada abad XXI ini, dimana gelombang ketiga (informasi, merujuk pada Toffler) telah sedemikian merasuk dalam sendi-sendi kehidupan, maka menemukan ide yang pertama dan100% orisinal serta brilian jelas bukan perkara yang mudah atau malah mungkin bisa dibilang nyaris mustahil. Cobalah berkeliling ke sentra-sentra dagang, maka Anda akan menemukan 1001 jenis barang yang luar biasa uniknya. Ditambah lagi dengan fakta bahwa orang Indonesia, utamanya Jakarta, memang dikenal super kreatif. Sebagai contoh misalnya: Cloning PIN Blackberry yang sedang marak saat ini, atau konsep Mobile Entertainment yang disini dikenal dengan wahana Odong-odong. Saya pastikan berdasarkan pengalaman saya itu hanya ada di Indonesia.

Meski demikian bukan berarti ide-ide bisnis baru tidak bisa kita hasilkan lagi. Sepanjang ada kemauan maka pasti ada jalan keluarnya, “there is a way when there is a will”. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menemukan ide-ide bisnis:

1. Apa aktivitas/pekerjaan Anda saat ini?

Sebagian besar usaha bermula dari pekerjaan yang dilakukan sebelum memulai bisnis. Sebagai contoh saya memiliki latar belakang pekerjaan pada sektor Perbankan dan Teknologi Informasi sebelum memutuskan untuk memulai usaha Software House yang fokus menangani klien-klien dari sektor Perbankan dan Finansial. Kelebihan dari metode ini adalah: kita telah mengenal medan tempur yang akan kita masuki sehingga learning cost (biaya belajar) yang timbul relatif lebih rendah, jaringan bisnis (pemasok, klien, dan calon staff) telah kita miliki, dan juga kepercayaan diri kita akan lebih besar dikarenakan aktivitas yang kita jalani tidak banyak berbeda dengan aktivitas kita sebelumnya.

Kelemahannya ialah metode ini tidak berlaku bagi semua orang karena tergantung dengan  tipe bisnis dan “entry barrier” dari pekerjaan kita sebelumnya.  Contohnya kalau kita bekerja pada perusahaan Airlines maka agak susah kalau kita juga juga berencana membuat perusahaan baru karena akan membutuhkan modal uang yang sangat besar. Metode ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang masih pemula dan baru pertama kali terjun dalam bisnis.

2. Apakah hobby Anda?

Bagi banyak orang inilah ide bisnis yang dianggap paling menyenangkan. Bayangkan Anda mengerjakan sesuatu yang menjadi hobby Anda plus bonus memperoleh pendapatan dari hal tersebut. Banyak rekan saya yang menjalankan bisnis berdasarkan hobby mereka, misalnya: usaha penjualan komik bekas yang langka, usaha akuarium air laut, bengkel modifikasi Vespa, studio foto, dsb. Namun demikian Anda mesti waspada agar jangan sampai Anda terjebak menjadi seorang self-employed yang mesti sibuk terus menerus menjalankan bisnis tersebut. Teruslah berinovasi guna menjadikan bisnis Anda System-dependent (bergantung pada sistem) dan bukannya People-dependent (bergantung pada orang/diri Anda).

3. Terapkan ilmu ATM-J

Ini bukan varian susu STMJ, namun merupakan akronim dari Amati-Tiru-Modifikasi-Jalankan. Jargon ini sangat populer di kalangan penggiat seminar wirausaha dan menjadi topik yang sangat menarik untuk diketahui. Intinya adalah bahwa untuk menjalankan suatu bisnis yang sukses maka kita tidak harus menciptakan ide yang 100% orisinal seperti Stan Shih (boss Acer) dengan motto-nya yang sangat legendaris “me too is not my style”. ATM-J tidak menafikan kita untuk mencontek ide-ide bisnis yang sudah ada namun dengan melakukan modifikasi dan pengembangan seperlunya. Lagipula menurut saya tidak ada salahnya kita meniru sesuatu yang baik dengan cara yang beretika guna meningkatkan kemampuan kita.

4. Seringlah Jalan-jalan (Travelling)

Menurut saya ini adalah metode yang paling mudah dijalankan, terutama untuk kaum hawa. Saya termasuk penggemar berat metode ini sehingga setiap akhir pekan saya sempatkan berjalan-jalan untuk melakukan idea-shopping. Setiap bertemu hal-hal yang menarik maka saya sempatkan berhenti guna memperoleh informasi yang lebih detil soal hal tersebut. Lantas saya rekam dalam memori saya dan bila perlu akan saya catat dan mengambil foto-fotonya. Berdasarkan pengalaman saya banyak ide-ide bisnis yang saya peroleh dari metode ini. Jangan lupa sempatkan jalan-jalan ke pameran perdagangan yang diselenggarakan hamper tiap minggu.

5. Ikutlah Komunitas Bisnis dan Pelatihan Bisnis

Bagi pemula, saya sangat merekomendasikan untuk bergabung dalam komunitas-komunitas bisnis maupun pelatihan-pelatihan bisnis yang ada. Saat ini banyak sekali komunitas bisnis di Indonesia seperti misalnya: komunitas TDA, IYE, HIPMI, dsb. Anda bisa bergabung dengan mailing list atau forum yang mereka miliki. Saya yakin banyak ide-ide bisnis yang bisa Anda peroleh, selain tentunya kesempatan untuk memperluas jaringan dan kesempatan untuk berguru dari pebisnis yang lebih senior. Untuk pelatihan bisnis, kalau Anda belum memiliki cukup dana untuk ikut pelatihan yang lengkap, tips dari saya adalah ikut dalam sesi presentasi preview seminar yang umumnya mereka adakan sebagai promosi guna mencari murid yang hendak mengikuti pelatihan tersebut.

6. Banyaklah Membaca.

Meski sederhana namun menurut saya inilah metode yang mudah, murah, dan efektif. Selain jalan-jalan ke sentra belanja pada akhir pekan, saya juga senantiasa menyempatkan diri untuk pergi ke Gramedia guna membaca buku-buku terbitan baru. Saya tak selalu membeli buku disana dan seringkali hanya membaca sekilas saja di tempat. Biasanya kepala saya akan mulai pening setelah pulang dari sana saking banyaknya ide bersliweran di kepala saya.

7. Franchise?

Kalau benar-benar mentok dengan ide bisnis, tak ada salahnya Anda memikirkan metode franchise. Selain lebih mudah, mengambil franchise bisa menjadi tonggak awal kehidupan Anda berbisnis. Anda bisa belajar mengelola bisnis berdasarkan instruksi dan SOP yang telah disediakan oleh franchisor. Untuk pemula sebaiknya mengambil franchise yang berbiaya murah (3-5 juta) sebagai latihan sebelum Anda benar-benar terjun ke bisnis Anda sendiri.

Demikian beberapa metode yang dapat digunakan guna memperoleh ide bisnis. Selain metode di atas masih banyak lagi metode-metode yang bisa Anda lakukan guna memperoleh ide bisnis yang right-fittest alias tepat dan sesuai untuk Anda. Happy idea-hunting! @Betley 090709

Tagged , , , ,

1000 Alasan untuk Gagal, 1 Kemauan untuk Sukses

how_to_be_successfulSelama ini sering berkembang anggapan dalam masyarakat bahwa menjadi pengusaha memerlukan suatu “kualifikasi” khusus yang sangat tinggi dan tak mudah dijangkau. Dari sekedar persepsi, lambat laun anggapan tersebut akhirnya menjelma menjadi suatu mitos yang sulit diurai dari kenyataan yang sesungguhnya. Saya sendiri dulunya termasuk orang yang terjebak dalam mitos itu, seperti misalnya: “…oh karena saya adalah dari suku Sioux, maka saya tidak mungkin menjadi pengusaha seperti mereka yang berasal dari suku Apache” dan sebagainya. Namun kenyataannya setelah saya jalani ternyata hal-hal yang mulanya saya terima sebagai kebenaran ternyata hanyalah mitos semata yang banyak salahnya dibanding benarnya. Berikut adalah beberapa mitos yang kerap saya jumpai dalam masyarakat:

  • Pengusaha adalah Seorang RISK TAKER/Penjudi

Dulu saya dan mungkin sebagian besar orang berpikir bahwa pengusaha sudah semestinya adalah seorang Risk Taker sejati. Saking berani dan nekatnya, maka saya mengidentikkan pengusaha dengan penjudi yang main judi dadu seperti dalam kisah Mahabarata dimana Yudhistira bermain judi melawan Duryudana dan bahkan sampai mempertaruhkan Drupadi dalam ajang perjudian itu. Pilihannya selalu hanya dua, menang berarti sukses atau kalah dan berarti malapetaka, tidak ada alternatif lain.

FAKTA:

Menjadi pengusaha tidak semestinya berjudi, namun lebih banyak bersifat RISK HANDLER, yakni memiliki kemampuan untuk mengendalikan potensi dan resiko yang mungkin terjadi. Semua tindakan yang melibatkan pilihan pasti memiliki resiko meski sekecil apapun. Pengusaha dengan jam terbang yang cukup semestinya bisa membedakan diantara berani mengambil resiko dan melakukan tindakan konyol. Bahwa resiko itu pasti ada memang tak terhindarkan, namun mengantisipasi resiko, mengkalkulasi resiko, serta menyiapkan alternatif solusi untuk meminimalisir dampak resiko juga merupakan strategi yang harus dikuasai oleh seorang pengusaha tulen.

  • Hanya untuk Etnis/Suku Tertentu

Sebagian orang beranggapan bahwa pilihan menjadi pengusaha hanya didominasi oleh suku tertentu, katakanlah suku Apache. Sedangkan mereka yang berasal dari suku Sioux “ditakdirkan” menjadi petarung. Bagi saya itu hanyalah semacam “denial” atau penyangkalan sepihak dari orang yang enggan atau malas mencoba sesuatu yang baru.

FAKTA:

Faktanya untuk menjadi pengusaha tidak mesti dari suku Apache. Semua orang berhak dan bisa menjadi pengusaha sepanjang dia mau dan mampu mengusahakannya. Meskipun mungkin banyak orang dari suku Apache yang menjadi pengusaha, namun berdasarkan refleksi saya hal itu lebih dikarenakan keuletan, etos kerja, jaringan, dan juga kemauan yang kuat dari anggota suku Apache untuk menjadi seorang pengusaha. Dalam abad XXI ini menurut saya sangatlah naïf kalau kita mengaitkan suatu pencapaian dengan latar belakang suku, etnis, dan agama. Intinya adalah semua bisa kalau tahu caranya.

  • Ini Soal Genetik

Kerap kali saya mendengar dari rekan saya bahwa mereka tidak percaya diri untuk membangun bisnis dikarenakan latar belakang mereka yang bukan dari pengusaha. Teman saya sedemikian yakinnya bahwa dia tidak akan mampu menjadi pengusaha yang sukses karena ayahnya adalah seorang pegawai negeri dan ibunya adalah seorang guruSaya sepakat dengan dia bahwa dia memang tidak akan mungkin berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Bukan karena dari latar belakang profesi orang tuanya, tapi lebih karena keyakinannya yang kuat pada sesuatu yang salah dan konyol.

FAKTA:

Saya yakin semua hal itu bisa dipelajari. Karena santet dan debus bisa dipelajari, maka saya 1000% yakin kalo untuk menjadi pengusaha itu sudah pasti ada ilmunya dan pasti bisa dipelajari. Sekali lagi ini soal kemauan, bukan soal latar belakangnya.

  • Perlu Modal Besar

Banyak orang berpikir bahwa dia tidak akan bisa memiliki usaha dikarenakan tidak memiliki modal yang cukup. Karena tidak memiliki modal, maka harus pasrah menjadi pegawai seumur hidupnya. Bagi saya menjadi pegawai adalah pilihan yang mulia, asal memang dinikmati dan bukannya karena suatu keterpaksaan.

FAKTA:

Saya pasti berbohong kalau bilang modal itu tidak penting, karena modal itu super penting sekali. Namun masalahnya sebagian orang itu hanya berpikir bahwa modal itu identik dengan uang, titik! Menurut saya itu merupakan suatu pemikiran yang sangat simplistik dan tidak kreatif. Modal itu bisa dalam berbagai bentuk. Waktu memiliki usaha saya memang tidak memiliki modal uang, namun saya memiliki modal lain yang sangat besar, yakni kemauan, determinasi, jaringan bisnis, ketrampilan, dan  juga kemampuan membaca peluang. Saya yakin banyak orang Indonesia yang memiliki modal dalam bentuk uang, namun tidak memiliki modal seperti yang saya punyai. Jadi yang perlu saya lakukan hanyalah melakukan sinergi dari modal-modal tersebut.

  • Perlu Pendidikan Tinggi

“Karena hanya lulus SMA, maka saya cukup menjadi OB saja Pak.” Demikian ujar karyawan saya beberapa tahun silam. Dia bilang sama sekali tidak berani (bahkan bermimpi sekalipun) menjadi pengusaha karena dia merasa hanya tamatan SMA dan tidak memiliki cukup ketrampilan.

FAKTA:

Faktanya Ibu saya , seorang “lulusan” SD kelas 2 sebelum sekolahnya keburu ditutup karena peristiwa G30S tahun 1965, dalam masa jayanya sempat mengembangkan serangkaian usaha di beberapa negara dengan staff yang rata-rata minimal lulusan D3 dan S1. Saya sependapat sekali bahwa pendidikan itu penting, namun bukan berarti tanpa pendidikan tinggi merupakan akhir dari semua hal. Banyak referensi nyata pengusaha yang memiliki pendidikan biasa-biasa saja namun akhirnya bisa berhasil. Pendidikan singkat yang berbasis vokasional (vocational) yang sekarang marak berkembang, menurut saya merupakan sarana yang efektif untuk terus meng-upgrade kemampuan personal kita.

  • Menunggu Situasi Ekonomi Membaik

Beberapa sahabat berujar kepada saya bahwa mereka akan membuka usaha pada saat situasi ekonomi membaik lepas dari krisis global.

FAKTA:

Faktanya krisis tidak akan pernah berhenti! Karena krisis itu lebih berupa sudut pandang akan sesuatu. Kalau kita melihat itu sebagai krisis, maka situasinya memang akan menjadi krisis, namun sebaliknya kalau kita melihat dari sudut pandang yang lainnya, maka kondisi saat ini merupakan kondisi yang prospektif dan penuh peluang. Sekali lagi ini soal persepsi dan yang pasti persepsi itu tidak sama dengan realitas.

Demikian sekilas refleksi saya soal mitos-mitos tentang entrepreneurship yang berkembang dalam masyarakat kita. Saya tidak pernah berpretensi refleksi saya tersebut benar, namun hal tersebut lebih berupa merupakan sharing berdasarkan pengalaman saya yang masih minim. Akhirnya, kita bisa punya 1000 alasan untuk gagal dan hanya perlu 1 kemauan saja untuk sukses! @Betley-070709

Say YES to SUCCESS!

Action!

shameBicara soal mimpi, saya punya banyak hal dalam hidup ini yang mungkin layak diceritakan. Tentu saja mimpi yang saya ingin ceritakan kali ini adalah mimpi dalam konteks membangun bisnis baru. Dulunya saya jelas karyawan tulen, pagi masuk jam 8 dan pulang jam 5 teng, TengGo! Belum lagi dulu belum ada libur Sabtu, jadi suka nggak suka tiap Sabtu harus masuk meski cuma setengah hari dan kerjaan nyaris tidak ada alias cuma “nongkrongin” kantor. Walhasil kondisi demikian membuat saya banyak bermimpi untuk melakukan hal-hal lain diluar kerjaan saya sebagai karyawan.

Salah satu impian saya adalah membangun suatu korporasi bisnis yang besar. Saya selalu terheran-heran setiap kali mendengar ada konglomerat yang meresmikan bisnis barunya. Pada masa jayanya, konglomerat Liem Sioe Liong diketahui memiliki tak kurang dari 700 perusahaan! Kalau sehari dia mengunjungi 1 perusahaannya, maka setidaknya dia perlu hampir 2 tahun untuk menyelesaikan. Kalau Oom Liem saja demikian, bagaimana dengan boss Toyota atau boss2 yang lain? Benar-benar tidak masuk diakal saya waktu itu. Maklum waktu itu saya belum terbayang soal delegasi wewenang dan desentralisasi kekuasaan.

Mimpi-mimpi saya tentang memiliki korporasi terus bergulir dari waktu ke waktu tanpa adanya tindak lanjut yang memadai. Sampai akhirnya saya memutuskan berhenti kerja dan berangkat untuk studi lanjut. Sepulang dari studi (2005) baru saya mulai serius untuk mencoba merealisasikan mimpi saya. Pikir saya waktu itu sederhana saja, mumpung lagi dalam kondisi susah sebagai pengangguran yang otomatis nggak ada penghasilan sama sekali maka sebaiknya saya mencoba saja sekalian terjun sebagai entrepreneur.

Waktu memutuskan mencoba sebagai pengusaha saya menemukan banyak kendala-kendala yang terutama berhubungan dengan hal-hal yang sebenarnya bersifat minor, alias tidak substansial. Saat itu saya terlalu banyak berpikir untuk hal-hal yang sifatnya legal-formalistik, seperti misalnya soal bagaimana bentuk badan hukumnya (PT atau CV), bagaimana cara membuka account bank, soal pajak, kantor, hingga soal rekrut karyawan. Hal tersebut cukup membuat saya pusing hingga sempat berpikir untuk kembali menjadi karyawan saja. Namun setelah teringat akan mimpi saya dahulu untuk membuka usaha sendiri maka saya memutuskan untuk “rawe-rawe rantas, malang malang putung” alias pantang mundur.

Solusi-nya saya mulai aktif minta pendapat kepada senior-senior saya yang sudah lebih dulu membuka usaha, juga aktif join miling list kewirausahaan, membaca buku-buku yang relevan, dan aktif mengikuti seminar motivasi (terutama yang gratis..hehehe). Pelan tapi pasti saya mulai menyerap berbagai macam pendapat sampai akhirnya saya menyadari bahwa langkah awal untuk membuka usaha ternyata cuma satu hal, yakni ACTION!

Bertahun-tahun saya cuma bermimpi dan hasilnya nihil. Mirip drama legendaris Waiting for Godot-nya Sam Beckett dimana sampai akhir pertunjukkan sang tokoh “Godot” tidak juga muncul di pentas. Intinya memang action, action, dan action! Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak substansial. Kalau rekan-rekan memiliki ide bisnis, sebaiknya langsung direalisasikan dan jangan hanya berhenti pada tataran mimpi dan wacana. Berpikir dan membuat Business Plan memang penting, namun jangan sampai hal tersebut menghalangi langkah Anda untuk membuka usaha.

Sekali lagi, kalau Anda memiliki ide bisnis apapun itu, maka segeralah menindaklanjutinya dengan hal-hal yang lebih taktikal. Ingatlah selalu pepatah Cina kuno, ” The journey of a thousand miles begins with a single step!

Self diagnosis, where the heck are we now?

KuadranMengacu pada diagram klasik Kiyosaki, dimanakah sekarang posisi kuadran Anda? Apakah Anda seorang Employee (E), Self-Employed (S), Business Owner (B), atau malah sudah Investor (I)? Meski bisa dibilang parameter tersebut sudah sering dibicarakan dan merupakan parameter lama, namun menurut saya parameter awal tersebut tetaplah merupakan tool yang penting bagi kita untuk mendiagnosis posisi kita kemarin, saat ini, dan tentunya posisi kita di masa depan. Secara umum tentu saja posisi yang paling banyak adalah posisi Employee (E) karena memang bagi sebagian orang posisi tersebut dipersepsikan sebagai posisi yang mudah diraih, meski jelas-jelas saya meragukan klaim tersebut, apalagi pada masa pelambatan ekonomi seperti saat ini.

Sedikit lebih “beruntung” adalah posisi Self-Employed (S) dikarenakan setidaknya pelakunya menjadi tuan atas dirinya sendiri dan bisa dibilang menjadi insan “setengah merdeka”. Kenapa setengah merdeka? Karena memang mereka belum bisa merdeka seutuhnya karena ketergantungan terhadap skill individu sangatlah dominan. Tanpa hadirnya individu tersebut praktis usaha yang dijalankannya tidak bisa bertahan alias mandeg. Lantas sebagai manuasia biasa, bukankah kita sewaktu-waktu bisa sakit atau mungkin terkena musibah yang membuat kita tidak bisa beraktivitas normal?

Pengalaman tersebut saya peroleh dari teman saya yang memiliki usaha software development seperti saya. Dia fokus menangani pembuatan sistem akuntansi (GL) dan payroll. Namun dia susah percaya terhadap orang lain dan memutuskan untuk bekerja sendiri. Dia berdalih trauma bekerja dengan orang lain dikarenakan kekhawatiran bahwa staff yang direkrutnya membawa kabur logika algoritma sistem akuntansi dan payroll yang telah dengan susah payah dia kembangkan selama bertahun-tahun. Memang secara umum dia tampak menikmati usahanya tersebut mengingat semua hasil pendapatan usahanya dia nikmati sendiri tanpa mesti berbagi dengan orang lain. Namun disinilah masalahnya, tanpa diduga pada suatu waktu sewaktu dalam perjalanan menuju klien dia terpeleset sewaktu mengendarai motor dan membuatnya jatuh dan patah tulang tangan kanannya. Hal yang terjadi kemudian sangatlah fatal. Secara fisik memang tidak terlalu mengkhawatirkan, namun setidaknya dia memerlukan waktu 1-2 bulan untuk menyembuhkan patah tulangnya. Dengan jumlah klien yang lumayan banyak serta sisa pekerjaan yang masih menumpuk tanpa adanya back-up, maka akibatnya sangat fatal bagi kelangsungan usahanya. Banyak proyek yang terpaksa putus ditengah jalan dan dalam kondisi pengeluaran dia yang besar, praktis dia sama sekali tidak memiliki penghasilan. Kabar terakhir dia menyerah dan memutuskan bekerja kembali pada perusahaan lain.

Selain faktor tersebut diatas, juga perlu disadari bahwa keterbatasan utama manusia adalah WAKTU. Dalam sehari kita cuma punya 24 jam dan umumnya hanya memiliki maksimal 10-12 jam waktu produktif untuk bekerja. Lantas bilamana kita hanya bekerja sendirian, maka kita tidak akan mampu mereplikasi hasil kerja kita yang akhirnya membuat output yang kita hasilkan sangat terbatas. Hal ini berlaku juga pada profesi-profesi seperti dokter, penyanyi, pelukis, dsb. Kecuali kalau dalam profesi kita tersebut kita mampu mengeruk massive income secepat mungkin dan lantas mampu menggeser kuadran kita ke posisi Investor.

Kuadran berikutnya adalah Business Owner (B) dimana dalam posisi ini kita telah berhasil membangun suatu sistem yang standard yang seragam serta telah terbukti mampu berjalan dengan baik dalam berbagai skenario yang mungkin timbul. Bisnis yang berhasil adalah bisnis yang telah memiliki sistem “Auto Pilot”. Sehingga tanpa kehadiran kita sebagai pemilik usaha tersebut dapat terus berjalan dengan baik dan bahkan terus menerus dapat kita replikasi dimanapun dan kapanpun. Contoh paling klasik dari “the real business” adalah bisnis Franchise. Bisnis berbasis Franchise adalah bisnis yang sesungguhnya, dimana tanpa kehadiran pemilik, usaha tersebut dapat terus berkembang sebagai hasil dari penerapan standarisasi proses bisnis yang tepat dan akurat. Banyak orang menduga bahwa mereka telah berhasil membuka bisnis, namun kenyataan sesungguhnya mereka hanya menciptakan lapangan kerja bagi mereka sendiri seperti contoh teman saya diatas. So, do you have a business or a job?

Kuadran terakhir dan juga merupakan kuadran yang menjadi idaman semua orang adalah menjadi Investor (I). Posisi ini menekankan bahwa yang semestinya kita tidak bekerja keras mencari uang, namun menciptakan suatu kondisi dimana uang yang mesti mengumpulkan “teman-temannya”. Dalam kondisi normal hal ini bisa diraih bilamana kita telah berhasil mengumpulkan massive income dan lantas berhasil memanfaatkannya untuk membuatnya bekerja bagi kita sebagai pemilik uang.

Menurut Kiyosaki, faktanya E & S adalah 80% dan B & I hanya sekitar 20%, namun 95%  kekayaan ada pada B & I sedangkan E& S hanya memiliki sisanya Lantas pertanyaannya, ingin dalam kuadran manakah Anda dalam 5 tahun kedepan?

4 Wisdoms!

Sky is the limit_WEB_WEBBeberapa waktu silam saya sekeluarga makan bersama di sebuah kedai kwetiau Pontianak di bilangan Cibubur yang memang merupakan langganan lama kami. Meski memang masakannya istimewa (setidaknya menurut kami) tapi tidak ada hal yang baru malam itu. Setelah pesan, kami menerima pesanan makanan kami dan lantas melahapnya dalam hitungan menit sampai tandas. Selanjutnya sambil menunggu makanan masuk ke perut dengan selamat, saya melihat sekeliling kedai. Tak ada yang istimewa, sampai mata saya tertuju pada kalender produk minuman keras yang memuat tulisan Cina dengan ukuran relatif besar berwarna khas Cina yakni warna merah dan emas. Saya rasa ini strategi promosi yang bagus mengingat produsen tersebut memasang kalender bergambar huruf Cina tersebut dalam kedai yang memang didominasi pengunjung etnis Cina. Namun bukan strategi marketing yang saya akan bahas, melainkan tentang “makna” dari kata-kata dalam huruf Cina yang ada dalam kalender itu.

Karena penasaran, saya membuka lembar demi lembar naskah yang ada dalam kalender itu sambil membaca terjemahan dalam bahasa Inggris berukuran kecil yang ada di bawah tulisan dalam huruf Cina tersebut. Sambil mengernyitkan dahi, saya mencoba menerka-nerka apa maksud dari tulisan-tulisan tersebut dan kenapa susunan penempatannya menarik dan sepertinya memang dalam sekuen (sequence) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dalam kalender tersebut, terdapat empat lembar tulisan yang masing-masing memuat penanggalan untuk 3 bulan. Karena menarik perhatian saya, maka sayapun memotret kalender tersebut satu demi satu.

Sesampai di rumah saya masih terbayang-bayang maksud dari kata-kata dan pola susunannya yang menurut saya cukup menarik. Setelah saya pikirkan, berikut adalah kesimpulan versi saya tentang wisdom tersebut. Tentu saja tafsir ini adalah subjektif menurut nalar saya dan sudah pasti sangat beragam tergantung dari sudut pemaknaannya. Semoga dapat menginspirasi rekan-rekan.

HARDWORK -> FORTITUDE -> PATIENCE -> PROSPERITY

Prosperity!

Dari susunan tersebut nampak bahwa tujuan akhir yang hendak dituju adalah PROSPERITY (Kemakmuran). Menurut saya kehidupan yang bermakna adalah hidup yang memiliki tujuan yang jelas dan tentu saja realistis. Tanpa tujuan yang jelas maka hidup laksana perjalanan tanpa ujung ke suatu titik yang tidak jelas akhirnya. Disini jelas sekali bahwa tujuan yang hendak dicapai adalah kemakmuran. Definisi kemakmuran tentu berbeda bagi tiap-tiap orang, bisa berupa harta, pangkat, derajat atau mungkin kemakmuran yang lebih bersifat religius dan filosofis.

Hardwork!

Guna meraih tujuan itu, tentunya diperlukan adanya strategi yang tepat dan terutama do-able (dapat dijalankan). Untuk lebih jelasnya telah saya bahas dalam tulisan terdahulu soal MBO – SMART versi Drucker. Dalam konteks ini guna mencapai tujuan diperlukan HARDWORK (kerja keras) secara konsisten dan berkesinambungan. Bagi manusia modern dikenal adanya SMARTWORK, namun tetap saja roh dari semua itu adalah adanya persistensi dan determinasi yang konsisten dan terus berkesinambungan dalam jangka panjang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Fortitude!

Selanjutnya hal yang juga penting adalah FORTITUDE. Secara singkat fortitude adalah “dimilikinya sikap mental dan kekuatan secara emosional guna mengatasi setiap kesulitan, bahaya, maupun kondisi krisis yang ada”. Wisdom ini merupakan suatu hal yang terpenting bagi manusia, utamanya seorang pengusaha (entrepreneur). Tanpa adanya fortitude maka sesorang menjadi lembek dan mudah menyerah dalam menghadapi suatu masalah. Padahal kita tahu persis bahwa galibnya kehidupan adalah adanya masalah atau kesulitan. Tanpa adanya masalah, hidup akan terasa monoton dan manusia akan mudah terjebak dalam zona nyaman (comfort zone) yang pasti cepat atau lambat akan membawanya menjadi manusia yang lemah, tidak kreatif, dan sangat rentan terhadap setiap perubahan yang terjadi. Menurut saya, wisdom ini mutlak dimiliki oleh orang-orang yang berkeinginan untuk mandiri.

Patience!

Wisdom selanjutnya adalah PATIENCE (kesabaran). Hal ini meski mudah diucapkan namun sejatinya merupakan hal yang paling sulit dilaksanakan. Persaingan yang sengit dan sikap manusia di lingkungan sekitar yang acuh tanpa etika membuat kita sadar atau tidak sadar terseret dalam pusaran gelap ketidaksabaran. Kita seringkali jadi sangat mudah marah untuk hal-hal yang sepele serta tidak berarti. Seri buku “Don’t sweat for small stuffs” memberi banyak refleksi kepada kita tentang makna kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang kecil dan sepele guna menghindari kepusingan yang tidak perlu. Kesabaran serta pengendalian optimal membuat kita tetap FOKUS pada tujuan akhir yang hendak kita capai. Tak ada yang mudah dan instan untuk dilakukan, namun alangkah baiknya kalau kita mulai belajar melatihnya sedini mungkin.

Demikian sekilas refleksi dari saya, semoga bisa berguna. Salam sukses!

Sopo ubet, ngliwet!

Success_by_BalionuFejaSopo ubet, ngliwet! Kalimat pendek nan sederhana tersebut benar-benar menginspirasi saya. Kalimat tersebut berasal dari bahasa Jawa ngoko yang secara harafiah dapat diartikan sebagai berikut. Sopo=siapa, ubet=mau berusaha, ngliwet=dapurnya ngebul. Atau terjemahan bebas-nya kurang lebih berarti “…barang siapa yang mau berusaha sejatinya tidak perlu khawatir karena banyak peluang yang bisa dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan hidupnya”.

Saya pribadi termasuk orang yang sangat percaya dengan makna kalimat tersebut. Sewaktu menemui penganggur, preman, atau pengemis di jalanan saya seringkali termenung dan benar-benar tidak bisa memahami apa yang ada di benak mereka. Kebanyakan dari mereka memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, malah mungkin secara fisik bisa dibilang jauh lebih sehat dari saya yang memiliki problem dengan tekanan darah dan obesitas. Intinya ternyata memang mindset, ya mindset yang ada di benak orang-orang tersebut. Namun dalam kesempatan ini saya tidak akan fokus untuk membahas mindset, namun saya akan lebih fokus dalam mendalami makna “ubet” alias berusaha.

Ubet dalam khazanah budaya Jawa, setidaknya Jawa-Solo yang merupakan latar belakang penulis sejatinya memiliki makna dan falsafah yang cukup dalam. Ubet atau berusaha dapat dimaknai sebagai serangkaian proses, yang seringkali berliku-liku, untuk dapat keluar dari suatu problem yang dihadapi. Makna “ubet” lebih dari sekedar usaha biasa namun mengandung arti berusaha semaksimal mungkin dengan segala daya dan upaya juga dengan semua cara untuk mencapai tujuan yang kita harapkan. Tentu usaha tersebut harus sesuai dengan konteks falsafah nilai etika dan moral yang kita anut. Dalam “ubet” kita dituntut untuk mesti menstimuli otak kita secara kontinu dengan ide-ide baru untuk semakin melancarkan jalan kita mencapai tujuan.

Namun demikian, falsafah “ubet” menurut penulis masih terasa sangat abstrak dan “gelap”. Oleh karena itu untuk membuatnya menjadi lebih terang, penulis mencoba menelahnya berdasarkan konsep tujuan dan strategi.

Secara ringkas konsep tujuan dan strategi dapat digambarkan sebagai berikut. Dalam semua hal hendaknya kita fokus pada TUJUAN atau lebih tepat direpresentasikan dalam kata OBJECTIVE. Meski sama-sama berarti tujuan, berbeda dengan GOAL, AIM, atau TARGET, OBJECTIVE lebih bersifat detil, terukur, dan yang penting realistis. Demikian juga dalam setiap aspek kehidupan, hendaknya kita memiliki OBJECTIVE yang jelas. Sebagai referensi kita dapat menggunakan konsep Management by Objective (MBO) yang diperkenalkan oleh Peter F. Drucker, seorang Guru manajemen yang merupakan figur anutan saya. Drucker menekankan bahwa OBJECTIVE yang baik hendaknya bersifat SMART, kependekan dari Specific (spesifik), Measurable (terukur), Achievable (dapat diraih), Realistic (realistis) dan Time-bounded (terikat dengan target waktu). OBJECTIVE yang dirumuskan secara SMART memiliki karakteristik sebagai tujuan yang jelas, komperehensif dan yang penting dapat menjadi panduan yang memadai bagi kita untuk “ubet” mencapainya.

Setelah memiliki OBJECTIVE yang SMART, lantas bagaimana? Untuk itu kita wajib memiliki STRATEGI yang kuat. Strategi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai “…cara, upaya, usaha-usaha untuk mencapai tujuan”. Bagi pemula, strategi yang digunakan sebaiknya merupakan strategi yang telah teruji kehandalannya. Jangan malu untuk MENIRU. Saya pribadi termasuk pengusaha yang tidak pernah malu mengakui bahwa dalam banyak keputusan bisnis yang saya ambil merupakan strategi yang saya tiru dari pengusaha lain yang lebih dulu berhasil. Logika saya ialah tidak ada salahnya kita meniru hal yang baik. Model ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) yang telah banyak diperkenalkan dalam seminar-seminar bisnis bagi saya merupakan metode yang efisien dan efektif untuk meminimalisir resiko bisnis terutama bagi pemula. Namun untuk yang sudah lebih berpengalaman sebaiknya memang bisa lebih merumuskan strategi yang inovatif dan bersifat out of the box atau sesuatu yang baru.

Langkah terakhir setelah merumuskan strategi yang sekiranya tepat guna meraih OBJECTIVE kita, maka kita memerlukan TAKTIK (tactic). Kalau strategi bersifat lebih umum dan tidak dapat langsung digunakan sehar-hari, maka taktik lebih bersifat sesuatu yang bisa diterapkan sehari-hari (day-to-day application). Kalau perlu jabarkan taktik tersebut menjadi bagian-bagian kecil yang dapat dilaksanakan setiap hari selama jangka waktu tertentu seperti misalnya selama 3 atau 6 bulan kedepan. Namun meski demikian bukan berarti kita menjadi kaku dan tidak fleksibel terhadap situasi dan kondisi yang dinamis. Kelenturan dan sifat adaptif serta kemampuan membaca situasi dan memilih langkah yang tepat tetap merupakan variabel penting yang tidak boleh dikesampingkan.

Demikian sekilas tentang konsep “ubet” beserta penjelasan ringkas berdasarkan sudut pandang manajement barat (western school), semoga dapat lebih member semangat kepada rekan-rekan untuk senantiasa “ubet” supaya bisa “ngliwet”.

Strategi Terjun Bebas

TebasSewaktu ngobrol ringan bersama teman beberapa waktu lalu, terbetiklah suatu topik tentang keinginan mereka untuk terjun bebas menjadi pengusaha. Sewaktu saya melangkah menuju hal yang lebih praktis, barulah mereka mulai goyah dengan ide yang mulia tersebut dan mulai munculah berbagai macam alasan yang bisa digunakan sebagai “tameng” untuk menunda atau bahkan membatalkan niat menjadi pengusaha. Seseram itukah resiko terjun bebas menjadi pengusaha?

Berdasarkan pengalaman yang telah saya rasakan, saya termasuk yang sepakat bahwa untuk menjadi entrepreneur adalah sangat mudah. Sama mudahnya memutuskan untuk makan di kala lapar atau minum di kala haus. Atau lebih ekstrem lagi seperti (maaf) buang hajat di kamar mandi, kali ini menurut Pak Purdhie. Makanya saya selalu heran bilamana bertemu rekan atau sahabat (puluhan jumlahnya) yang bolak-balik mengeluh betapa sulitnya memutuskan untuk menjalani hidup mandiri. Mereka punya berbagai alasan tentang kenapa takut untuk memulai petualangan baru sebagai pengusaha. Dari berbagai alasan tersebut, terdapat beberapa alasan yang dominan, misalnya: takut gagal, tidak ada modal, tidak ada ketrampilan, sudah punya tanggungan istri dan anak, dan iklim ekonomi yang kurang bersahabat. Semua hal itu menjadi momok yang menakutkan bagi rekan-rekan saya tatkala mereka berencana mendirikan usaha sendiri. Padahal saya tahu rekan-rekan saya itu memiliki skill, knowledge, pengalaman, network, dan bahkan capital yang jauh melebihi saya.

Ada banyak rekan yang saya lihat sangat potensial dan saya yakini bakal menjadi pengusaha yang sukses namun sayang sekali tidak berani memutuskan mencoba menjadi pengusaha karena sudah terbelenggu oleh “penjara-penjara pikiran” yang dia ciptakan sendiri. Penjara yang membelenggu itu umumnya lebih disebabkan ketidaktahuan ataupun perspektif yang kurang tepat tentang konsep kewirausahaan. Umumnya ada 4 hal yang menjadi momok seseorang sebelum memutuskan terjun bebas menjadi pengusaha, yaitu:
1. Resiko Kegagalan
2. Minimnya Skill dan Knowledge
3. Kendala Modal, dan
4. Kondisi Ekonomi

RESIKO KEGAGALAN

Umumnya orang mengira bahwa pengusaha adalah seorang RISK TAKER yang bisa dibilang mirip-mirip dengan penjudi. Bisa kaya raya kalau menang, atau sebaliknya bisa jatuh miskin kalau kalah. Mungkin hal inilah yang menghambat sebagian orang untuk menjadi pengusaha, karena mereka takut kalau kegagalan akan membawa mereka ke jurang kemiskinan, oh seraaaaaaam. Namun demikian secara logika praktis dan empirik hal tersebut tidaklah 100% tepat. Memang benar dalam hal tertentu yang membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat seorang pengusaha dituntut untuk mau mengambil resiko atas pilihan yang dilakukannya. Saya pribadi cenderung berpendapat bahwa seorang pengusaha adalah RISK HANDLER yang baik.

Kalau kita telaah, terdapat 2 faktor resiko bisnis yang ada, yakni UNCONTROLLABLE FACTOR dan CONTROLLABLE FACTOR. Untuk yang pertama memang dalam banyak hal tidak bisa kita hindari dikarenakan kita tidak memegang kendali penuh atas kejadian tersebut. Kejadian seperti bencana alam, huru-hara atau kejadian kahar (force majeure) yang lain memang susah diprediksi dan mau tidak mau harus kita hadapi. Namun perlu diingat bahwa kejadian tersebut tidaklah sering terjadi di Indonesia, atau setidaknya tidak sesering yang terjadi di Bangladesh. Sedangkan faktor kedua (controllable factor) merupakan faktor resiko yang paling lazim terjadi dalam suatu proses bisnis. Resiko bisnis jenis ini relatif bisa ditanggulangi dan sebenarnya bisa diantisipasi guna meminimalisir dampak yang ditimbulkannya. Dengan penerapan strategi-strategi manajemen yang sederhana seperti misalnya SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats) analysis bisa membantu pengusaha untuk meminimalisir resiko yang bisa terjadi. Selain itu masih banyak tools ataupun strategi yang bisa kita gunakan untuk setidaknya mengurangi resiko bisnis yang mungkin timbul. Pengalaman atau jam terbang seseorang akan sangat berpengaruh dalam kemampuan untuk mengatasi resiko-resiko bisnis yang timbul.

Selain hal teknis, terdapat faktor non teknis yang juga sangat amat penting adalah kemampuan BERPIKIR POSITIF (positive thinking) dalam memandang sesuatu. Kalau ada waktu, cobalah untuk terus-menerus mensugesti diri Anda dengan hal yang baik, nanti akan Anda alami hal-hal manis yang tidak Anda duga sebelumnya. Hal tersebut dikenal dengan istilah self-fulfiling prophecy. Juga yang terpenting senantiasa memohon kepada Tuhan agar dimudahkan langkah kita guna mencapai tujuan.

Untuk artikel yang membahas “penjara-penjara pikiran” yang lainnya akan segera saya susulkan. @Betley

9 Reasons to Say Goodbye to Your Boss!

9 reasonsPagi ini saya memperoleh pesan indah dari teman lama yang telah membaca catatan-catatan yang telah saya publikasikan melalui blog ataupun Facebook. Selain dia, pesan indah tersebut saya terima juga beberapa waktu lalu dari seorang teman lain yang saat ini menjabat sebagai Assistant Vice President (AVP) di salah satu bank besar milik Singapura. Apa isi pesan indah itu?

Ternyata “virus-virus” yang telah saya sebar melalui catatan-catatan saya telah menuai “hasil”-nya. Kedua teman saya tadi mengeluh telah mengalami gejala-gejala panas-dingin, susah tidur, dan gelisah berkepanjangan. Mereka gelisah karena dalam lubuk hati yang terdalam (deep inside) sebenarnya mereka sudah lelah dan jenuh bekerja untuk orang lain dan ingin segera memulai petualangan baru sebagai entrepreneur.

Meski sudah berkali-kali saya sampaikan bahwa seharusnya dengan pengalaman dan jaringan sekaliber mereka seharusnya tidak susah menjadi pengusaha namun faktanya tetap saja mereka masih takut atau ragu-ragu untuk melangkah lebih lanjut. Saya berpikir jangan-jangan “virus” yang saya tularkan kurang kuat dosisnya. Nah supaya makin kuat dosis virusnya, maka saya coba menambahkan “dosis” baru. Nanti kalau frekuensi panas dingin dan gelisahnya makin tinggi, maka saya akan coba tawarkan “obat penawarnya” :D .

Berikut ini adalah alasan-alasan yang dulu membuat saya mantap untuk “Fire my Boss!” dan memutuskan untuk memasuki tahapan baru sebagai pengusaha:

1. Lingkungan Kerja yang Kurang Kondusif
Karena beberapa alasan tertentu yang seringkali tidak saya mengerti, maka banyak ide-ide saya atau ide kelompok kami yang mentok dan tidak tersalur dikarenakan adanya perbedaan sudut pandang antara saya dan manajemen. Padahal saya haqqul yakin bahwa kedepan ide-ide tersebut akan menjadi tren bisnis yang akhirnya memang terbukti demikian.

2. Pimpinan yang Kurang Mendukung
Dalam berbagai kesempatan, saya bekerja untuk pimpinan dengan berbagai dengan latar belakang yang sangat variatif dan kompleks. Banyak pimpinan saya yang suportif dan mendukung saya untuk maju, namun demikian ada pula pimpinan yang memang sangat susah untuk diajak bekerjasama. Pimpinan yang demanding adalah biasa, namun pimpinan yang tidak bisa menerima masukan dari bawahan merupakan pimpinan yang membuat saya frustasi.

3. Waktu yang Terbatas
Dahulu saya termasuk pekerja yang bisa dibilang jarang pulang ke rumah dikarenakan kesibukan yang luar biasa apalagi pada waktu persiapan menjelang tender proyek. Sebagai sales sekaligus konsultan saya mesti melakukan banyak hal mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang sangat kompleks. Waktu yang 24 jam terasa kurang dan membuat saya seringkali mengalami kelelahan baik fisik maupun mental. Untuk kelelahan fisik saya bisa mengatasinya dengan mudah namun tidak demikian hal-nya dengan kelelahan mental.

4. Penghasilan yang Terbatas
Meski saya rutin memperoleh kenaikan salary berkala, bonus, dan juga komisi proyek namun tetap saja semua itu ada batasnya. Meski uang bukan segalanya dan tidak menjamin kebahagiaan, namun saya berprinsip bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka kita memerlukan uang. Saya sepakat bahwa uang adalah “alat” untuk mencapai tujuan dan bukannya “tujuan” itu sendiri.

5. Jenjang Karir yang Terbatas
Karir puncak merupakan idaman semua orang, namun sayangnya jenjang karir itu seperti piramida yang makin runcing pada sisi atasnya. Meski kita telah memberikan semua yang kita punya namun faktanya tetap saja masih banyak orang yang memang lebih hebat dari kita. Daripada berebut pada lorong yang makin sempit, lantas kenapa kita tidak menciptakan lorong sendiri?

6. Office Politics
Suka atau tidak hal ini pasti terjadi dimanapun Anda berada. Persaingan yang keras seringkali memicu orang untuk bersaing dengan tidak sehat, salah satunya dengan office politics. Apalagi dengan makin mudahnya proses komunikasi antar karyawan dalam perusahaan maka makin mudah pula office politics dilakukan. Pernahkah Anda mengalami bahwa kealpaan atau kesalahan yang mungkin Anda perbuat dengan tidak sengaja beredar ke pimpinan kita atau tersebar kemana-mana melalui fasilitas CC (carbon copy) dalam email?

7. Resiko PHK
Dahulu siapa pernah menyangka kalau Lehman Brothers bakal ambruk? Atau juga kemungkinan bahwa Citibank, RBS, ING, GM Motors bakal rugi besar dan terancam bangkrut? Kondisi tersebut membuat PHK massal tak dapat dihindari. Faktanya dalam beberapa kali krisis ekonomi, perusahaan SME (small medium enterprise) jauh lebih tahan terhadap efek krisis.

8. Pikirkan alasan pribadi Anda….

9. Adakah alasan lain yang lebih personal untuk Anda?

Semoga dosis tambahan dalam “virus” ini lebih mampu untuk menginspirasi Anda.
Salam perubahan! @betley-030409

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.